KEPRIBADIAN BERTUTUR DALAM BAHASA MANGGARAI

ABSTRAK

Keunikan Manggarai ditinjau dari sudut sosio-etno linguistic adalah sebuah fenomena budaya yang kaya dan bernilai luhur. Entah di Manggarai barat, tengah, mau pun timur bahasa Manggarai adalah identitas daerah yang begitu kokoh. Seluruh masyarakat Manggarai-kempo merasa satu ketika media komunikasi ini hadir sebagai mediator dalam setiap perilaku kehidupan sosial diiringi tata cara adat yang berciri khas setempat. Salah satu contoh yang sering ditemukan ialah acara penyambutan tamu pejabat yang selalu diwarnai oleh tata cara adat dengan penggunaan bahasa Manggarai (style) yang santun dan indah serta simbol-simbol tradisi yang masih kuat seperti seekor ayam dan robo tuak (minuman arak dari sadapan pohon aren yang tersimpan dalam sebuah wadah dari sejenis labu yang sudah kering). Keindahan budaya tersebut adalah warisan leluhur orang Manggarai yang wajib dituruntemurunkan.

Kata Kunci: sosio-etno lingistik, bahasa, budaya, sopan santun

 

Paham-paham personal pun kolektif yang mencuat ke permukaan dari suatu masyarakat merupakan buah dari penghayatan interaksi dan sosialisasi. Bila ditilik dari perspektif fenomenologi mod­ern, setiap pengalaman yang ada pada manusia (masyarakat) selalu merupakan eksteriorisasi dari sebuah pengalaman tentang sesuatu. Sesuatu yang merupakan isi dari pengalaman itu bisa berupa interaksi antar-persona, juga interaksi persona dengan lingkun­gan, tradisi dan adat-istiadat yang merupakan dimensi-dimensi yang melingkupi adanya (masyarakat etnis) manusia.

Secara eksternal, hal-hal yang menyangkut pola laku, sikap dan cara pandang merupakan ekspresi paling real dari terbentukn­ya kepribadian manusia. Pada aras komunitas etnis, keterkaitan antar-pribadi memberi warna khas yang membedakan satu kelompok masyarakat etnis dengan kelompok masyarakat etnis yang lainnya. Inilah yang dalam termin antropologi budaya disebut suku bangsa, atau ras. Rasa keterkaitan yang intim dalam kelompok ras menjadi titik tumpu lahirnya karakter khas dan eksklusif tertentu pada orang-orang dari daerah asal yang sama ketika mereka berada dalam satu masyarakat multikultural (masyarakat kota). Namun demikian, eksklusivitas itu tidak boleh dipandang sebagai tanda larang untuk satu interaksi lintas kultural yang baru. Justru dengan kesadaran akan diferensiasi itulah ciri dinamis eksisten­si manusia diaktualisasikan. Manusia sanggup beradaptasi bahkan merupakan ciptaan Allah yang memiliki derajat kesanggupan “penyesuaian diri” paling tinggi.

Demikianlah, untuk memahami kepribadian masyarakat etnis yang termuat dalam sikap dan pola pikir maupun cara pandang orang tertentu semestinya tidak boleh secara subjektif-relatif ditakar berdasarkan situasi aktualnya saja di tempat mana ia hidup dan berinteraksi. Setiap proses, dalam hal ini interaksi sosial lintas kultural manusia, dalam bingkai inklusif masyarakat di mana hidup orang-orang dari latar belakang etnis yang berbeda-beda, selalu berdimensi ganda. Di satu sisi, ada kuali­tas-kualitas tertentu yang akan lenyap atau berubah (misalnya sifat ekslusif), dan di sisi lain, ada unsur-unsur yang tetap (kekhasan alam pikiran) yang tidak berubah. Dari perspektif ini, kembali harus ditegaskan bahwa untuk menilai (jati diri) orang tertentu harus disertai pertimbangan mengenai latar belakang etnis-primordial dari mana orang itu datang. Hanya dengan ker­angka itu, kita memiliki pegangan yang cukup objektif dan pema­haman yang komperehensif mengapa orang-orang dari setting budaya yang sama memiliki karakater tertentu yang relatif sama, misa­lnya bertemperamen halus, lemah, sopan, atau bahkan kasar dan beringas.

Tulisan ini hendak melukiskan secara sedikit ilmiah, seka­lipun hanya sepintas saja, prihal “Orang Manggarai”. Mengapa orang Manggarai memiliki sifat-sifat, pola pikir “begini” atau “begitu”? Apa sesungguhnya yang mereka hidupi dalam lingkungan primordialnya dan bagaimana hal-hal itu berpengaruh terhadap masyarakat maupun individu-individu yang lahir dalam bingkai masyarakat etnis Manggarai itu? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi titik tumpu refleksi penulis. Tentu saja simpul dari tulisan ini adalah pemahaman yang sedikit lebih komperehensif bahwa kemam­puan orang Manggarai untuk mengungkapkan diri tetap merupakan bukti keunggulannya sebagai manusia. Dan, unsur-unsur khas yang melekat pada “orang Manggarai” yang dihidupinya dalam komunitas plural dan inklusif mengungkapkan penghayatan emosionalnya yang mendalam akan pengalaman-pengalaman kulturalnya.

Bahasa

Dalam ranah Sosiolinguistik, sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengkaji bahasa dan masyarakat (linguistik dan sosiologi), disebutkan bahwa Bahasa adalah hasil budaya suatu masyarakat yang kompleks dan aktif. Bahasa dikatakan kompleks karena di dalamnya tersimpan pemikiran-pemikiran kolektif dan semua hal yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Bahasa dikatakan aktif karena bahasa terus berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan bagaimana masyarakat menerjemahkan bahasanya terhadap orang lain. Oleh karena sifatnya tersebut, bahasa adalah aspek terpenting dalam mempelajari suatu kehidupan dan kebudayaan masyarakat.

Koentjaraningrat dalam bukunya Sosiolinguistik (1985) menyebutkan bahwa bahasa merupakan bagian dari kebudayaan. Artinya, kedudukan bahasa berada pada posisi subordinat di bawah kebudayaan, tetapi sangat berkaitan. Namun, beberapa pendapat lain mengatakan bahwa hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang bersifat koordinatif, sederajat dan kedudukannya sama tinggi.

De saussure (1916) sebagaimana dikutip oleh Abdul Chair dalam bukunya Sosiolinguistik Perkenalan Awal (2010) menyebutkan bahwa bahasa adalah satu lembaga kemasyarakatan yang sama dengan kemasyarakatan lain, seperti perkawinan, pewarisan harta peninggalan, dan sebagainya. Oleh karena itu, masyarakat sendiri sebagai pelaku dalam bahasa memberikan warna tersendiri, bahkan memunculkan ragam bahasa pada bahasa itu sendiri.

Jika mengacu pada penjelasan beberap sosiolinguist diatas, bisa dikatan bahwa, keberadaan bahasa dan dialek dalam komunikasi dan interaksi sosial masyarakat Manggarai mencerminkan pemikiran kolektif sebagai pengguna bahasa yang sah dan budaya orang Manggarai (shared cultural values) yang diteruskan dari generasi ke generasi dan dari jaman ke jaman.

Dan jika melihat penggunaan kepribadian bertutur oleh orang Manggarai dalam tataran praktisnya, maka bisa ditemukan bahwa bahasa Manggarai mengutamakan kesantunan dalam berkomunikasi.

Asal-usul Manggarai

Daerah Manggarai terletak di bagian barat pulau Flores. Bagian barat berbatasan dengan selat Sape, bagian timur dengan Wae Mokel, bagian selatan denngan laut Sumba, dan bagian utara dengan daerah Bajawa. Pada masa kerajaan daerah ini tediri atas 12 dalu dan pusat kerajaan terdiri atas tiga yaitu pongkor, Todo, dan Cibal. Kemudian dalam sistem pemerintahan sekarang, daerah ini dibagi dalam tiga wilayah pemerintahan yaitu kabupaten Manggarai Barat, Manggarai Timur dan Manggarai Tengah. Meskipun wilayah pemerintahan ini di bagi tiga, daerah ini masih memiliki satu mbaru tembong (Rumah Gendang) yang sama yaitu di Manggarai Tengah. Ketiga wilayah ini masih menganut satu rumpun budaya yang sama yaitu rumpun budaya Manggarai. Pembagian wilayah dalam ketiga wilayah pemerintahan tidak sekaligus membagi corak kebudayaan yang kelihatan berbeda.

Menurut Hadiwiyono (1985) suku di bagian timur nusa tenggara merupakan bagian dari suku-suku di Indonesia bagian timur selain wilayah lainnya yaitu kepulauan sebelah timur pulau Lombok dan kepulauan Maluku. Bagian ini merupakan suatu daerah peralihan dari Indonesia dan Melanesia dan merupakan percampuran dari bermacam-macam unsur budaya dari daerah-daerah dengan berbagai tingkatan di berbagai daerah. Percampuran ini juga termasuk ras yaitu ras Melanesia dan Weddoid. Sedangkan penduduk pulau Flores secara umum dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok suku yaitu:

  • Flores barat yang terdiri dari suku Manggarai dan Riung
  • Flores barat tengah yang terdiri dari suku Ngada atau Nad’a atau Ngadha
  • Flores timur yaitu selain penduduk flores diatas ditambah dengan penduduk dari

pulau Solor dan Alor.

Flores barat didiami oleh orang Manggarai. Paling tidak ada dua versi tentang penamaan Manggarai. Versi pertama mengatakan bahwa Manggarai merupakan gabungan dua kata dalam bahasa Gowa- Sulawesi Selatan, yaitu manggar, artinya sauh atau jangkar dan rai, artinya putus. Jadi Manggarai artinya sauh atau jangkar putus. Kisahnya demikian; menurut ceritera rakyat setempat, orang-orang Gowa berlayar ke arah selatan dan menemukan sebuah daerah yang berhutan lebat dan sangat subur. Mereka berencana mendarati daerah itu. Namun karena hujan badai yang besar, jangkar perahu mereka putus sehingga dengan segenap kekuatan, mereka berusaha menyelamatkan diri kembali ke laut lepas dan kembali ke Gowa. Kedatangan kembali mereka disambut dengan sukacita oleh sanak keluarga. Mereka mengatakan bahwa telah menemukan sebuah daerah yang subur dan berhutan lebat di selatan tetapi tidak bisa mendarat karena hujan badai yang besar yang membuat sauh mereka putus. Demi mudahnya, daerah di mana sauh mereka putus itu selanjutnya dinamakan Manggar-Rai.

Kelak daerah yang subur itu didatangi kembali dan nama itu pulalah yang kemudian dipakai untuk menunjuk daerah yang subur dan berhutan lebat itu. Selanjutnya, nama itu dipakai seterusnya dan menyebar ke mana-mana, baik ke Bima di Sumbawa, ke Solor di Flores Timur dan kemana-mana saja sepanjang pantai Flores. Lalu nama Manggar-rai itu kemudian diucapkan menjadi satu kata saja yaitu Manggarai seperti yang dikenal dewasa ini.

 

Pusat Budaya Manggarai

 

Rumah Raja Manggarai di kampung Todo yang terletak 32 kilometer sebelah barat daya kota Ruteng – Flores merupakan bekas kebesaran Kerajaan Manggarai yang dibangun pada abad 17. Orang Manggarai menyebut bangunan ini dengan Niang Mbowang Todo. Rumah tersebut merupakan simbol peradaban suku Manggarai yang masih bertahan hingga saat ini. Meskipun kondisinya saat ini menyedihkan namun masih tetap difungsikan sebagai prosesi liturgi yang dipercaya untuk meminta bantuan gaib dari para leluhur. Para keturunan raja pada waktu tertentu masih bertemu di tempat ini untuk membicarakan masalah yang berkaitan dengan kelahiran, perkawinan, sengketa, pelanggaran, pertengkaran, perceraian, perdamaian, pembagian warisan sampai upacara kematian. Di bawah pimpinan kepala suku yang dituakan semua permasalahan secara damai dibicarakan bersama. Panggilan untuk seluruh warga berkomunikasi diawali dengan pemukulan bedug yang disebut mbaru tembong. Tempat ini juga sebagai meditasi untuk menghubungkan antara dunia manusia dan alam lainnya. Rumah selalu terbuka sebagai tanda mengundang tamu untuk masuk sambil berseru ”mai ite” dan mai hang” yang berarti datanglah dan makanlah. Semua komponen rumah memiliki makna filosofi yang tinggi dan masih relevan untuk pembinaan gaya dan cara hidup masa kini. (Suptandar, 2004)

 

Rumah adat ini hanyalah salah satu contoh dari ratusan rumah adat lainnya yang sampai saat ini masih difungsikan oleh masyarakat Manggarai. Dari pengalaman penulis selama berada di Manggarai, hampir segala sesuatu yang berhubungan dengan adat selalu dimulai dari rumah adat. Dengan demikian keberadaan adat Manggarai hingga saat ini masih cukup kuat berada di wilayah Manggarai.

 

Kondisi rumah-rumah adat ini saat ini memang cukup memprihatinkan dan menurut penulis diperlukan upaya perhatian pemerintah ataupun lembaga-lembaga konservasi lainnya untuk renovasi atau pembangunan kembali, untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat setempat. Perhatian dalam hal bantuan rumah adat ini sangat perlu apabila menginginkan peran fungsionaris adat dalam konservasi mengingat sifat orang manggarai yang masih kental terhadap adatnya dan masih difungsikannya rumah adat.

 

 

Sejarah masuknya kebahasaan manggarai

Selain orang asli (Homo Florensiensis), orang Manggarai  juga merupakan pendatang  dari berbagai suku bangsa di dunia. Orang Manggarai sebagai kaum imogran berasal dari Eropa, terutama Turki. Mengapa sampai orang Turki sampai di Manggarai?  Orang Turki sampai di Manggarai secara tak sengaja dengan adanya pasukan angkalan laut Turki (Otoman) yang datang ke Aceh dalam rangka membela  Kesultanan Aceh yang kedaulatannya terancam oleh Portugis. Kesultenan Aceh meminta bantuan kepada  Otoman di Turki  sebagai sesama kerjaan Muslim. Otoman Turki mengirim 200 perahu  yang  memuatan pasukan bantuan. Dalam perjalanan menuju Aceh, tak semua perahu tiba di tempat tujuan, Aceh.Ada yang terdampar di lain tempat, termasuk  terdampar di  pantai di Manggarai, yakni di Nanga Rawa – Kisol – Borong, Manggarai Timur. Konon, salah satu nama  mereka yang terdampar di Nanga Rawa itu adalah Jermelo. Jermelo inilah yang menjadi cikal bakal orang-orang Manggarai yang nama belkangnnya dimulai dengan Je, misalnya Jelatu, Jemau, Jemparus, Jeratu, Jemahu, Jelalu, dll.

Selain dari Eropa, pendatang lain yang menuju Manggarai berasal dari Minangkabau, Sumatra Utara.  Mereka mendarat di Werloka – Komodo, Manggarai  Barat.   lalu masuk dan menyebar  ke seluruh Manggarai. Tokoh  dari Minangkabau di Manggarai dikenal dengan nama Masyur. Keturunan Masyur  ada di Todo, Wae Rebo, Pongkor  dan  Manus, dan bagian lain di Manggarai.  Pendatang lainnya  berasal dari  Sulawesi Selatan (Bone, Sopeng, Wajo, Luwu). Mereka mendarat di pntai-pantai di Manggarai seperti di Bari (Berit), Reo, Pota.  Mereka yang mengaku keturunan Makasar mendiami Rei, pota, Cibal, Lamaleda dan juga  beberapa suku di Kecamatan Ruteng, seperti seperti suku Maras Welo  yanf tersebar di Wela, Sano / Goloworok, Senda – Lewur, Sama, Coal, juga mereka yang tinggal di Karot (Lelak)   / Rego (Masang Pacar).

Masih ada  lagi pendatang lain yang masuk ke Manggarai yakni suku Jawa. Konon, ketika kerajaan Majapahit berkuasa, ada ekspedisi ke Flores, terutama ke Manggarai. Sebagai kenang-kenangan, maka beberapa  tempat di  Manggarai diberi nama seperti tempat di Jawa, misalnya, Rana Kuleng (  Kuleng dekat dengan kata Kulan di Jawa, seperti Kulon Progo), selain itu ada jenis sayuran yang diberi nama Jawa, misalnya  mentimun Jawa (Timung Jawa), Benteng Jawa (ibu kota kecamatan LKambaleda – Manggarai Timur), sama  dengan nama  Jawa. Di Narang  Todo, ada  kisah bahwa seorang perempuan Jawa menikah dengan lelaki Todo yang bernama Kode Rae Radi Ngampang Bali.

Selain itu ada juga pendatang  dari Sumba. Mereka menghuni kawasan Kempo, Lembor. Selain itu ada juga yang berasal dari Timor. Mereka  tinggal di  daerah Wae Rana.

Rumpun bahasa di manggarai

Bahasa Manggarai adalah bahasa yang digunakan suku Manggarai. Bahasa Manggarai(Tombo Manggarai) adalah salah satu bahasa daerah di Indonesia. Penuturnya terdapat di kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Manggarai memiliki beberapa sub bahasa atau dialek lagi, anatar lain;

  • Bahasa Manggarai, dialek Mukun
  • Bahasa Manggarai, dialek Kisol
  • Bahasa Manggarai, dialek Lambaleda
  • Bahasa Manggarai, dialek Ruteng
  • Bahasa Manggarai, dialek Pacar
  • Bahasa Manggarai, dialek Kolang
  • Bahasa Manggarai, dialek Lembor
  • Bahasa Manggarai, dialek Kempo

Bahasa Manggarai:central of Manggarai

Keunikan Manggarai ditinjau dari sudut sosio-etno linguistic adalah sebuah fenomena budaya yang kaya dan bernilai luhur. Entah di Manggarai barat, tengah, mau pun timur bahasa Manggarai adalah identitas daerah yang begitu kokoh. Seluruh masyarakat Manggarai merasa satu ketika media komunikasi ini hadir sebagai mediator dalam setiap perilaku kehidupan sosial diiringi tata cara adat yang berciri khas setempat. Salah satu contoh yang sering ditemukan ialah acara penyambutan tamu pejabat yang selalu diwarnai oleh tata cara adat dengan penggunaan bahasa Manggarai (style) yang santun dan indah serta simbol-simbol tradisi yang masih kuat seperti seekor ayam dan robo tuak (minuman arak dari sadapan pohon aren yang tersimpan dalam sebuah wadah dari sejenis labu yang sudah kering). Keindahan budaya tersebut adalah warisan leluhur orang Manggarai yang wajib dituruntemurunkan.

Ahli bahasa (linguis) yang pernah mengadakan penelitian danmenghasilkan karya dokumenter bahasa Manggarai adalah Jilis AJ Verheijen SVD. Misionaris berkebangsaan Belanda inilah yang pertama kali menggunakan istilah barat, tengah, timur dalam konteks wilayah bahasa Manggarai (linguistic area) berdasarkan hasil studi dan penelitiannya dan berhasil membuat Peta Bahasa Manggarai. Bahkan menurut beliau, bahasa Manggarai terdiri dari empat dialek mayor yaitu dialek Manggarai Barat, dialek Manggarai Tengah, dialek Manggarai Timur, dan dialek SH. Dinamakan dialek SH karena masyarakat pemakai bahasa Manggarai di daerah Kolang, Pacar, Berit, Rego, Nggalak menyebut konsonant /s/ menjadi /h/ seperti pada kata ‘salang=jalan’ menjadi ‘halang’. Masing-masing wilayah dialek memiliki variasi-variasi bahasa (variant) yang menarik dan cukup banyak. Bayangkan, Manggarai Timur sendiri memiliki 6 sub dialek yaitu Rongga, Mbaen, Baiq, Pae, Toe, Ning dengan spesifikasinya masing-masing, namun semuanya tetap dikenal sebagai bahasa Manggarai.

Demikian halnya di Manggarai Barat ada dialek Kempo, Boleng, Mata Wae, Welak, sedangkan Manggarai Tengah lebih monodialek dengan distingsi intonasi yang sangat khas. Oleh karena itu kalau orang Manggarai tengah berbahasa Indonesia, maka logat dan intonasi Manggarai tengah sering terbawa-bawa dalam penggunaan bahasa Indonesia (Sumber: Willem Berybe ‘Manggarai Noun and Verb Formation, A Descriptive Analysis of The Morphology of The Manggarai Tengah Dialect (A Comparative Study); Thesis, English Department Fakultas Kegu-ruan Unversitas Negeri Nusa Cendana Kupang, 1982).

Kehadiran tiga kabupaten dengan wilayah kekuasaan dan pemerintahan yang berbeda-beda di Manggarai adalah sebuah entitas Manggarai dalam model “three in one”. Ia tetap beradadalam satu konteks Manggarai berdasarkan identitas, originalitas serta sejarah Manggarai sebagaimana dipaparkan di atas. Manggarai bakal menciptakan tiga kekuatan raksasa di kawasan ini. Bisa dibayangkan poros tiga ibu kota kabupaten yang strategis; Borong, Ruteng, Labuan Bajo dengan sentra-sentra kekuatan ekonomi, sosial, politik, kebudayaan menjadi basis-basis kekuatan yang dapat diperhitungkan di masa depan. Tiga pelabuhan laut yang menjadi pilar ekonomi perdagangan Labuan Bajo di Mabar, Reo di Kabupaten Manggarai, dan Borong di KMT termasuk kandidat pelabuhan laut Wae Wole di kawasan Wae Lengga yang semakin diincar investor serta jaringan transportasi udara yang kian sibuk dan padat baik di Bandara Satar Tacik Ruteng mau pun Mutiara Labuan Bajo memperlihatkan potensi-potensi SDA Manggarai yang handal.

Filosofi gambaran kepribadian orang manggarai lewat go’et Untuk menunjukan kemanggaraiannya. Siapakah orang manggarai?

 

Orang Manggarai adalah  orang yang mengungkapkan kualitas / keberadaan  hidupnya  melalui bahasa  metafora / simbolis melalui  paci/rait.

Orang Manggarai adalah  orang yang memiliki bahasa, yakni bahasa Manggarai. Bahasa menujukkan bangsa / suku.  Bahasa Manggarai menunjukkan suku bangsa Manggarai.

Orang Manggarai adalah orang yang memiliki  daerah  real yang diklaim sebagai  daerah  yang menjadi kewenangannya berdasarkan limpahan nenek moyang. Ini  seacra  geografis terbentang  dari selay Sape di Barat dan  Wae Mokel di Timur Untk letak geografisnya:

Orang Manggarai adalah orang yang  kadang  kontakdiktoris: sebagaimana  goet  ini   mengungkapkannya: “tombo eta  golo, pande  wa nggampang” ): bicara/ omongnya di puncak  (tinggi-tinggi / ideal, tapi  perbuatan / kelakuan / pelaksanaannya di  kedalaman bawah / dasar /. Dengan ini mau dikatakan ada jurang  antara  kata  dan perbuatan, tutur  dan  tindakan ada  gap, jauh panggang  dari  api.

Orang Manggarai adalah orang yang melihat  kematian sebagai  hal yang sakral, suci. Tas  dasar  ini, orang Manggarai pada saat orang meninggal membawa / menyerahkan kain putih (kain bakok / wuwus) sebagai  kain untuk menutup jenasah orang yang meninggal. Saat menlayat, orang Manggarai membawa kain putih selain uang  duka (seng  wae lu’)  dan  kelengkapan  lainnya. Orang Manggarai adalah orang yang mememiliki harapan agar  beraksi  cepat dalam menunaikan sesuatu. Harapan ini diungkapkan dalam goet::  “neka  mejeng hese, neka  ngonde holes:  (jangan lambat berdiri, jangan malas bergerak / menengok / menoleh).
Orang  Manggarai  adalah insan yang  menghendaki pertumbuhan / perkembangan  yang  lebih  baik  bagi anak-naknya. Ini terungkap  dalam  timangan  saat  setelah  mandi. sambil   mengajak sang  bayi  bercakap-cakap sang  ibu  bertutur: ” Wa  wae  etan  ase” ( air  turnlah ke  bawah, si adik,  bertumbuhlah ke  atas). Orang  Manggarai  adalah insan yang dalam praksis (aksi) mengenal “ ce caluk” resiprokasi (tindak berbalasan). Hal ini terutama dalam tindakan budaya, misalnya  ritual adat, semisal undangan aktraksi  caci. Bila  kampung A  mengundang  kampung  B, maka  akan tiba  gilaran  kampung  B akan mengundang  kampung A.  Aksi reiprokasi ini tertanam kuat  dalam relung  hati orang Manggarai. Ingatan ini bersifat  kolektif, sehingga  kalau  belum dibalas, maka  akan selalu diingatkan. Tindakan resiprokasi  ini menjalar  ke  banyak hal dalam kegiatan sosial, termasuk dalam pengumpulan dana untuk membiayai sekolah (pesta sekolah),  sumbangan kematian / kelahiran / perkawinan. Orang Manggarai  sering mengatakannya dalam goet:  manga   weri  manga  todo, manga  teing, manga  tiba  (ada masa menanam, ada masa menuai; memberi  dan  menerima). Contoh  kasus: undang  antar  kampung  untuk Caci – Wela  – Lasang; Wela – Baru – Wela – Ngkor ; Wela – Teras.

Orang  Manggarai  adalah insan yang berpengharapan  berpasrah pada Yang di Atas. Ini terungkap dalam  ungkapan keseharian: ‘mau toe  baeng  le   Morin (semoga Tuhan berbelas kasih). Sikap pasrah sarat harapan ini  merupakan sikap mental yang terbuka terhadap penyelenggaraan ilahi. Hal ini membuat orang Manggarai  cepat respon tatkala  ada tawaran yang lebih menarik untuk memperbaiki nasib dengan mengandalkan kerendahan hati, kejujuran , mau belajar  sebagai  modal   utama di tengah kondisi ekonomi yang terseret. Mentalitas ini yang mengubah banyak kalangan dari kelas  bawah di Manggarai  menjadi orang  yang sukses, antara  lain, meski bernak banyak  dengan kondisi ekonomi yang compang camping tetapi tetap bisa  menyekolahkan anak-anak,  paling kurang  hingga  hingga jenjang pendidikan menengah bahkan pendidikan tinggi (universitas). Coba simak keluarga sederhana di kampung yang  hidup dari bertani, namun bisa mengkuliahkan  hampir semua anak-anak. Dalam satu keluarga bisa  3 – 4  orang  sarjana.

Orang  Manggarai  adalah insan yang  bangga  dengan  tanah airnya, Manggarai, apa  dan  bagaimanapun keadaannya. “Maram ndusuk  kiong e…tana ya… tana ru  ta  ngkiong e….., maram lalen  ngkiong e…tana ya…  tana  mbate  t Ngkiong e….. neka  one  kuni agu  kalo ta  Ngkiong…ngkiong  e….. (Biar ditumbuhi tumbuhan / kayu Ndusuk – ya Ngkiong itu tetaplah  tanah milik, biar ditumbuhi tumbuhan Lale Ngkiong e… tanah kita,  tanah warisan bapa, wahai Ngkiong…. wahai Ngkiong. bunyi burung Ngkiong, jangan melupakan dan meninggalkan  air (kelahiran)  ya Ngkiong…Ngkiong e….

Orang Manggarai adalah orang yang diharapkan  tahu berbalas budi, terutama kepada keluarga (Bapa, mama, om dan tanta serta keluarga inti. Ini diungkapkan dalam  nyanyian rakyat, sbb: “Eme haeng pake ge… anak e… nuk koe ame me…, eme haeng delek e…anak e… nuk koe ende me…, eme haeng tuna e… anak e…, nuk koe tua’s e…., eme haeng  ikang e…anak e… nuk koe  inang’s  e….(sekiranya mendapatkan katak, wahai ananda, ingatlah  ayahmu, sekiranya  mendapat rezeki nomplok  wahai ananda, ingatlah ibumu, seandainya mendapatkan tuna wahai ananda, ingatlah  pamanmu, seandainya mendaptkan  ikan wahai ananda, ingatlah  tantamu).
Orang Manggarai adalah orang  yang  dalam  aktivitasnya ada  intensi. Ini terungkap dalam go’et:
Mbeot  landing  geong//Lako landing lalo ()//Pala landing kesasar (da’t)//Sokol landing do’ng//Tuda landing  kurang//Selong landing geong; uwa  haeng  wulang//langkas  haeng ntala// lempo haeng  leso. Orang Manggarai adalah orang  yang percaya  akan adanya kehidupan setelah kematian.  Dalam pandangan orang Manggarai, jiwa  tidak  dapat  mati. Ada kehidupan setelah kematian. Jiwa itu hidup kekal, abadi.  Di sini orang Manggarai percaya akan kelahiran kembali (reinkarnasi). Dalam acara kematian, ada istilah “pedeng bokong“. Acara ini dibuat   saat  lepas pisah jenasah dengan keluarga. Dalam ritus ini, pembaca doa adat menyampaikan tuturan bahwa  kau yang meninggal jangan mengambil sendiri harta milik keluarga, misalnya padi di lumbung, tanaman di kebun. Tindakan mengambil sendiri ini bisa berupa gerkan binatang seperti tikus, babi hutan, kecoa, dll. Jiwa orang yang meninggal bisa  masuk pada binatang -binatang ini  untuk merusak harta benda milik bersama. Demi menghindari hal  ini, maka  saat pedeng  bokong,  diberikan jatah untuk dia,biar  tidak bergerak sendiri dalam rupa tindakan liar binatang – binatang  tadi.  Selain pemberian “jatah makanan” pada saat   lepas  pisah   dengan jenasah, masih ada acara lain dalam menghormati dan menjalin hubungan dengan orang yang sudah meninggal (leluhur)  yakni  adak teing  hang  (ritus  pemberian makanan). Ritus  ini untuk melanggengkan pola hubungan  anatar yang  hidup di dunia sini dengan dunia  seberang. Dengan melakukan hal ini, roh-roh merasa diperhatikan. Di sini sesungguhnya  ada  hubungan resiprokal antara  manusia  dan roh-roh mereka yang  sudah meninggal.  Keluarga yang hidup untuk mereka, dan mereka (roh-roh)  untuk orang  hidup.  Orang  yang  hidup membutuhkan kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan, umur panjang). Hal-hal ini diharapkan dimintakan leluhur  kepada Yang  kuasa agar dilimpahkan kepada keluarga  yang  masih ada di dunia. Sementara, arwah-arwah leluhur mengharapkan perhatian yang tanpa batas  dari keluarga  yang masih  hidup agar mereka  tidak kelaparan di sana, tidak “mengemis makanana/ minuman)  pada  orang  lain. Bila mereka  lapar, sangat mugkin mereka tak membela keluarga  yang   masih  hidup, malah mencelakakan, misalnya dengan membiarkan sakit bahkan dibuat  mati   pada  saat  sedang  bayi / kanak-kanak (roe’  ngoel, rekok  lebo).  Orang Manggarai  adalah  orang  yang  mau selamat, mau baik. Ini tersirat dalam ungkapan spontan bila  ada  ancaman,baik fisik maupun kata-kaya  yang  sijumpainya: “Toe  raung  ge  mori”.  Ungkapan go’et  ini mau menerangkan bahwa  apa yang orang ucapkan / atau  peristiwa  alam yang mengancam yang terjadi menfancam dirinya, misalnya geledakan petir,  nyaris terkena  pohon tumbang, dll,  tsk  mau terjadi  pada  dirinya. Orang (Maggarai) ini  mau  selamat, aman,Terinspirasi dari  mimpi “tombo Nipi”   diha “dia”  Sinta – Nipi tentang  rowa  ended  Megy. Nggo’  jaong: toe  raung  ge Mori….

Orang Manggarai adalah orang yang    belis (mas kawin) nya  sangat mahal. Mas kawin  aslinya  berupa hewan (kerbau, kuda,  babi). Namun seiring perkembangan waktu, semuanya diganti dengan uang. Belis perempuan Manggarai sekarang  sangat bervariasi, mulai dari  puluhan hingga ratusan  juta. Besar kecilnya belis ditentukan oleh beberapa  faktor, misalnya kondisi perekonomian orang  tua pengantin perempuan dan laki-laki. Bila orang tua  pengantin perempuan merupkan golongan menengah ke atas, maka nilai belisnya besar. Demikian sebaliknya. Selain kondisi sosial pengantin, faktor  lainnya adalah  pendidikan dan pekerjaan  pengantin perempuan. Bila  pendidikan tinggi dan kerja  elit (guru,perawat/bidan/dokter, PNS) sudah tentu belisnya  mahal.

Orang Manggarai adalah orang yang melihat  alat musik, persisnya gendang  sebagai sarana yang memiliki nilai  kekuasaan (souverenitas) adat terhadap warganya. Gendang  biasanya disimpan di rumah adat (Mbaru Gendang). Gendang memiliki peran sebagai pembawa kebenaran (gendang pande benar), gendang memiliki fungsi untuk membangunkan kesadaran (gendang pande wela), gendang  memutuskan penghalang /perintang sehingga orang bisa  lewat dengan aman (gendang te  retas sengkang mena), gendang berfungsi untuk memerintahkan (gendang te  jera) maka jangan  takut  ( runi tambur: neka rantang kraeng...)  untuk melaksanakan perintah dari tokoh adat. Tentang peran gendang  sebagai alat  untuk membangun kesdaran ini, bisa disimak dalam kisah orang yang hilang di kampung  yang  dicari dengan menggunakan Gendang. Di Wela, misalnya sekitar tahun 1980 – an, ketika  Kraeng  Ben Slamat  hinlang  dari  rumahnya pada  sore / malam  hari,  orang memutuskan untuk mencari. Geandang sebagai salah satu senjata yang dipakai. Pencarian ke arah  hutan. Lampu dibawa  dan gendang dibunyikan sambil  suara teriakan digemakan untuk memanggilnya. Menjelang  pagi, ditemukan di hutan. Dia menjadi sadar dan bisa merespons panggilan. Lalu dia divawa ke  rumahnya. Konon, dia dibawa oleh leluhurnya dengan tujuan untuk mengobati matanya yang sedang sakit. Leluhur itu membawanya ke hutan. Keluarga menacari dan membututinya. Leluhurnya takut karena mendengar bunyi.  Lalu mereka  melepaskan dia di situ. Maka Kraeng Ben Selamat ini  berhasil ditemukan  lalu dibawa  ke  rumah. Kisah kedua, Ema tua  Kolu. Dia hilang. Lalu dicari  dengan membunyikan gendang. Lalu ditemukan di  hutan,  dekat  Wae  Sewe, Golowelu, Kuwus.
(Inspirasi  dari  https://vinadigm.wordpress.com/artikel-artikel-lepas/sekilas-tentang-disertasi/),

Orang Manggarai adalah orang yang diajarkan untuk konsisten, jangan mencla – mencle. Ini sejalan dengan prinsip adat  dalam  goet : Ipo ata  poli wa tana / wancang)  toe  ngance  la’it  kole (apa yang sudah diputuskan tak bisa dimentahkan  kembali).(JPS, 27 Maret 2015)

Orang Manggarai adalah orang yang melihat dirinya – manusia – sebagai pusat kosmos. Mengapa? Karena posisinya yang berada di tengah (pusat) dalam sistem kehidupan  pertanahan (kebun)  dan perumahan. Dalam sistem pertanahan (perkebunan) adat (lingko lodok),  di pusat (lodok) ditanam kayu Teno. Dalam mitologi, kayu teno itu berasal dari manusia. Konon ada  ada keluarga dengan 13 anak. Dari ke  13 anak, 6 orang laki-laki, 6 orang perempuan dan 1 orang banci.Musim lapar tiba. Di sana sini kekurangan makanan. Sang ayah mendapat wahyu dalam mimpi. “Anakmu yang  banci hendaklah dibunuh demi menghidupkan yang lain,” demikian perintah leluhur kepada sang ayah. Meski berat, perintah leluhur ini harus dijalankan. Anak yang banci ini dibunuh  di mezbah batu, lalu dagingyan dicincang lalu disebarkan ke seluruh kebun. Beberapa waktu kemudian muncullah berbagai jenis makanan. Keluarga itu selamat dari  krisis pangan. Di dekat batu mezbah itu berdiri kayu Teno.  Untuk mengenang dia, dalam adat Manggarai, pemimpin yang mengurus tanah disebut Tua’ Teno. Tua Teno punya tugas menghidupkan warga dengan cara membagi tanah  seadil-adilnya. Hal ini diungkapkan dalam go’et: Paki gisi arit, singke gisi iret

Unsur kedua adalah rumah. Dalam sistem pembangunan rumah orang Manggarai, di ujung atas siri bongkok (RUMAH NIANG) ada gambar kepala  manusia dengan tanduk kerbau (lingga). Lingga dan  tiang utama rumah (siri bongkok ) masing-masing merupakan  simbol laki-laki  dan wanita. Tiang utama itu merupakan pusat rumah adat Manggarai. Dari kedua simbol adat ini tampak bahwa  manusia  berada di pusat, maka bagi orang Manggarai, manusia adalah pusat kosmos kehidupan. Selain manusia, sifat kepemimpinan merupkan hal yang sentral. Kepemimpinan memiliki peran sentral  bagi  orang Manggarai. Orang yang memimpin urusan pertanahan adat disebut  tua’  teno. Orang Manggarai adalah orang yang dalam menyelesaikan masalah mengenal prinsip sesama mengenal sesama, sehingga bila ada masalah. Ini sama dengan prinsip  mencungkil duri dengan duri. Penerapan prinsip ini misalnya  bisa ditelisik pada kisah strategi penaklukan Nggerang. Nggerang takluk  kalah setelah melalui pendekatan  terhadap keluarganya. Keluarga intinya ditekan oleh penguasa Bima. Ayah secara tak sengaja membunuh Nggerang. Nggerang meniggal di tangan ayahnya. Ayah yang mengenal anaknya dipakai untuk menaklukkan Nggerang. Hal yang mirip sama  juga terjadi dengan penaklukan Motang Rua oleh Belanda  dengan menaklukan (menawan/menyiksa/menangkap) anggota keluarganya. Paman (amang) yang bagitu dikagumi Motang Rua  berhasil ditangkap. Penagkapan ini berhasil memancing Motang Rua, pahlawan Manggarai,  keluar  dari persembunyian  di Cunca Lando, Ndoso  lalu menyerahkan diri kepada Belanda. Prinsip di atas berlaku juga ketika mencari orang yang  hilang karena  dicuri  atau diboyong  peri  (darat). Kisah pencarian orang  hilang menggunakan gendang menerangkan hal ini. Kisah Ben Selamat (Emad Tori) dan Emad ….(Ata  tua’ Kolu) menjelaskan hal ini. Mereka berhasil ditemukan  di hutan  karena dicari menggunakan gendang. Mengapa  Gendang? Gendang asli Manggarai terbuat dari kulit manusia, yakni Nggerang. Nggerang ini keturunan  darat. Peri (darat)  mengenal sesama peri  (darat). Sehingga ketika   terjadi kehilangan, gendang dijadikan sebagai senjata ampuh yang dipakai untuk menemukan orang yang diboyong oleh peri (darat).

Orang Manggarai adalah orang yang dalam memiliki prinsip hukum yang melahirkan keadilan, sebagaimana diungkapkan dalam go’et:Neka daku ngong data, neka data ngong daku. Eme daku, daku muing. Eme data, data muing. Ini adalah prinsip hukum, sekaligus puisi ttg keadilan dalam pergaulan manusia Manggarai yg bersifat universal.

Orang Manggarai adalah  orang yang bangga dengan  tanah  kelahirannya (kuni agu  kalo)  sehingga dirasa  perlu memberikan nama lain, berupakan  predikat  yang menggambarkan keindahan, estetika. Terhadap tanah Manggarai, diberi predikat “ tana  (bumi)  congka sae“. Congka  sae merupakan  tarian adat di mana menggunakan pakaian  adat (songke, bali belo, selendang).  Hemat  saya, dengan membaptis  nama “bumi songka sae”orang  Manggarai  menggambarkan diri sebagai  seniman / seniwati. Selain  itu, Manggarai  disebut  Nuca  Lale. Nama  ini memang  sebutan asli untuk Manggarai. Nuca =pulau, lale =  pohon sukun, jadi Nuca Lale artinya  pulau sukun.

Orang Manggarai adalah makhluk sosial. Ikatan kekeluargaan sangat dekat. Cenderung primordial (kekeluargaan /sukuisme). Hal ini ditentukan oleh  jargon  “ata  de ru /dite   (dami) – keluarga sendiri / keluarga kami.  Ikatan kekeluargaan  ini sering dijadikan  modal sosial   oleh para politisi. Terkadang kekeluargaan  pecah  karena  pilihan  politik  yang  berbeda. Orang Manggarai adalah  manusia yang  kadang karakternya seperti binatang (kerbau) (?). Ini bisa dilihat dari rumah adat yang di bagian  atasnya ada gambar kepala manusia menjunjung lingga (gasing) dan  tanduk kerbau. Lingga ini   merupakan  simbol kelelakian  yang dihubungkan dengan tiang utama (siri bongkok)  nan koneksi dengan  tanah. Siri bongkok itu merupakan simbol wanita.  Di sini laki- laki  dan  wanita  menjadi  pusat  kosmos Manggarai. Dengan simbol ini orang manggarai digambarkan manusia berotak dan berotot (O2), pemikir  dan pekerja. Bukan hanya manusia  yang berpikir  tetapi sekalian sebagai pekerja. Namun, ada sisi lain, yakni kerakter kerbau yang bergerak lamban, bukan tak mungkin mempengaruhi mentalitas orang Manggarai. Di balik O2 ada L (lamban, lelet).(JPS, 1 Mei 2015)

Orang Manggarai adalah  manusia yang menganut  fatalisme, hidup ditentukan oleh  nasib (wada). Tentang nasib yang tidak baik  orang Manggarai mengkomplain (memprotes) bahkan mengumpatnya   seperti dalam tuturan goet berikut: wada puka dana, nasib puka dani (nasib sial). Leluhur Manggarai percaya bahwa nasib orang sudah ditentukan ketika dia masih dalam kandungan ibu. Ketika  akan dan sedang  mengandung, seorang ibu mendapat mimpi tentang  calon  janin / bayi dalam kandungannya.  Mimpi itu mengisahkan tentang bayi, berupa jenis kelamin,  usia, kesehatan, kesejahteraan. Hidup setelah melahirkan hanya perwujudn dari  apa yang sudah didesain dalam mimpi. Untuk jenis  kelamin, bila mimpinya  pergi timba air, pakai  tabung bambu (gogong) maka itu anak perempuan, bila mimpi pergi timba air dan ketemu keluarga yang memberi parang, itu tanda bahwa bayi itu laki-laki. (VMG  dan  JPS, 2Mei 2015)

Orang Manggarai adalah  manusia yang menganut  paham bahwa manusia adalah makhluk biseksual. Keyakinan ini bisa disimak dalam  istilah kelahiran: ka’e  dan ase (mensia / manusia). Ketika lahir, ada 2 persona yang hadir, yakni  yang satu disebut ase / mensia (manusia), bayi manusia, dan satu yang lain disebut kae‘ / imar (ari-ari). Kae‘ (ari-ari) selalu berjenis kelamin berlawanan dengan ase (bayi manusia). Bila jenis kelamin bayi laki-laki, maka jenis kelamin  kae’ adalah perempuan. Demikian sebaliknya, bila bayi manusia berjenis kelamin perempuan, maka kae‘ berjenis kelamin laki-laki. Hubungan antara bayi dengan kae’ sangat dekat. Kae’ bisa jadi penyelamat bagi bayi, terutama bila  sakit. Perlakuan terhadap kae harus  pantas. Kae‘ biasanya langsung dikuburkan  setela proses kelahiran. Biasanya dikuburkan di sekitar rumah. Dalam hubungan selanjutnya, ketika memasuki masa akil baliq  hingga dewasa, kae’ ini sering muncul dalam bentuk perasaan seksualitas yang kerap ditampilkan dalam  peristiwa romantis dalam mimpi yang sering disebut mimpi basah. Laki-laki akan bertemu perempuan idamannya / teman / orang yang pernah dikenal, bahkan mamanya, demikaian juga perempuan bisa ketemu laki-laki idamannya / teman / kenalan bahkan ayahnya. Selain dalam mimpi romantis, biseksualitas hubungan manusia Manggarai bisa ditemukan dalam istilah wina wa untuk laki-laki dan rona wa untuk perempuan. Suasana hati manusia sering dipengaruhi oleh wina wa – rona wa. Wina wa – rona wa adalah pribadi yang lain di alam jiwa, alam bawah sadar. Gagasan  wina wa – rona wa, kae,  mirip dengan gagasan   jiwa (anima – animus) -nya Carl Gustave Jung.

Orang Manggarai adalah orang yang memiliki adat istiadat.  Berkaitan dengan perkawinan, Orang Manggarai menjunjung tinggi sopan santu, norma-norma kehidupan. Posisi pribadi dalam keluarga / klan (uku / wau’) harus benar-benar diperhatikan. Posisi ideal perkawinan adalah  perkawinan silang (cross cousin) keturunan saudara dan saudari. Hal ini dalam Bahasa Manggarai disebut tungku. Perkawinan tungku adalah ikatan hidup bersama dalam satu keluarga di mana anak laki-laki saudari menikah dengan anak perempuan  dari saudara. Sedapat boleh menghindari penyimpangan (jurak). Jurak adalah perkawinan yang ditabukan, misalnya menikah / kawin dengn keluarga inti (bapa /ibu/ saudari) atau masih  denngan anggota keluarga  dekat. Hal-hal yang termasuk tabu dalam perkawinan adalah bila kawin dengan ipar, atau dengan tanta. Hal ini disebut dengan  “wae’k lewing nare, senteng lewing teneng, rakang lewing hang, sompo lewing lompo” (tarik periuk tanak (masak), membawa periuk  tanak, menggotong periuk nasi, mangangka periuk masak / tanak).  Hal-hal seperti itu berusaha untuk dihindari.(JPS, 9 Mei 2015)

Orang Manggarai adalah orang yang memiliki unsur manusia (laki-laki dan perempuan) dan hewan (binatang), yakni kerbau (kaba). Unsur manusia merupakan perpaduan laki-laki (ata ron) dan perempuan. Unsur laki-laki bisa dilihat pada bagian   rumah adat. Di bagian ats rumah adat (mbaru gendang / tembong) ada gambar kepala (laki-laki), tanduk kerbau  dan alat kelamin laki-laki (lingga). Sebagai  penyambung gambar kepala manusia itu menuju ke tanah ada  tiang  utama, yakni  siri bongkok. Siri bongkok itu simbol perempuan. Pada puncak siri bongkok ada gambar kepala manusia yang di atas kepala itu ada lingga (simbol kelamin laki-laki).  Jadi manusia manusia ada unsur manusia, sekaligus binatangnya (kerbau).  Gambar-gambar itu menunjukkan bahwa  manusia Manggarai  mengamini apa yang dirumuskankan Aristoteles tentangan manusia sebagai “animal rationale”  serentak mengamini manusia sebagai  makhuk biseks sebgaimana gagasan Karl Justav Jung: anima – animus (ata rona – ata ine wai).  Selain itu, gambar berikut menunjukkan struktur kepemimpinan   dalam keluarga Manggarai bahwa laki-laki merupakan kepala rumah Tangga, perempuan sebagai  ibu rumah tangga. Gambar tanduk kerbau  merupakan simbol kekuatan. Orang manggarai harus tangguh seperti kerbau. Tentu tak luput dari sisi lain (negatif) kerbau, yakni  lamban dan tampak malas. Mental negatif ini sudah disadari oleh nenek moyang Manggarai maka leluhur mewariskan ajaran: dua’t  gula  -gula agu we mane-mane (berangkat kerja di pagi hari, pulang ke rumah di kala senja), neka mejeng hese, neka ngonde holes (jangan lamaban untuk berdiri (beraksi), jangan malas mencari akal).

Orang Manggarai adalah orang yang mengamini bahwa waktu bersifat siklis. Waktu siklis di sini dimaksud sebagai bahwa waktu itu berputar melingkar, pergi tapi akan kembali lagi.  Irama hidup orang Manggarai  mengikuti perputaran  waktu. Ketika pagi tiba, bangun lalu menuju ke tempat kerja. Ketika sore  menjemput, bergegas pulang ke rumah untuk bertemua keluarga dan beristirahat. Tatkala musim hujan tiba, orang beramai-ramai menabur benih (padi, jagung, kacang-kacangan), lalu di musim  panen siap sibuk mengumpulkan hasil panenan. Peredaran waktu itu ditentukan  oleh pergerakan bintang-bintang di langit. Bagi orang Manggarai, ada  tiga (3) jenis bintang yang dikenal, yakni: Ntala Mane, Ntala Gewang,  Ntala Ros. Ntala Mane adalah bintang sore, muncul pada sore hari ketika matahari terbenam. Ntala Gewang muncul pada subuh, pagi hari. Ntala Ros muncul pada larut malam. Bila Ntala Ros  tiba maka itu penanda bahwa  musim tanam sudah tiba. Tujuan hidup menurut orang Manggarai adalah meraih impian berupa kesuksesan hidup. Impian itu digantung tinggi-tinggi. Impian yang tinggi itu diibaratkan dengan benda-benda angkasa, terutama  bintang (ntala) dan bulan (wulang). Orang Manggarai menggantungkan cita-citanya di langit  dan berupaya  untuk meraihnya. Hal ini diungkapkan dalam goet: Uwa  haeng  wulang, langkas  haeng ntala ( bertumbuhlah mencapai  bulan,  dan tinggilah mencapai bintang). Simbol-simbol idealisme ini diabadikan dalam motif  kain adat Manggarai,  songke.  Dalam songke ada  empat (4) motif, yakni: Ntala, Lolo Cumbi, Mata Ntewar, Mata Puni. Motif  Ntala  melambangkan kehidupan orang Manggarai yang dipengaruhi dan mengikuti petunjuk waktu. Motif lolo cumbi (segitiga) melambangkan relasi manusia berdimensi tiga, yakni: dengan Sang Pencipta, sesama dan alam. Motif mata ntewar   (ulat sutra) melambangkan kehidupan yang terus diperbaharui ditransformasiMotif mata puni (belah ketupat) melambangkan sikap mental  yang tahan banting, tangguh seperti kerbau, kokoh seperti komodo.

Orang Manggarai  adalah orang yang terdiri dari perpaduan orang asli dan para pendatang. Orang asli itu bisa ditunjukkan dengan ditemukan Homo Floresiensis di Liang Bua, kecamatan Wae Ri  (?) / Rahong Utara (?), Manggarai.  Berdasarkan  penelitian,  Homo Florensiensis ini hidup  belasan ribu tahun yang lalu  (dating from 38,000 to 13,000 years ago).
Orang Manggarai adalah insan  berusaha realistis dengan kenyataan. Untuk maksud itu diharapkan setiap orang tahu diri. Bila ada yang tidak tahu atau lupa diri maka akan ditegur dan dikata-katai dengan ucapan berikut: “Malon magot lempa kendong”Go’et ini mengajarkan orang untuk mawas diri.  Go’et ini terkesan sinis yang sarkas. Kerap mematikan semangat dan menciutkan mental.  Bila dimaknai secara positif, ungkapan ini sebenarnya suatu cambuk untuk bangkit  memberikan yang terbaik dan berjuang secara maksimal.
Orang Manggarai adalah insan yang menghendaki dan mengharapakn pertumbuhan yang muda. Ini terungkap dalam go’et saat memandikan  anak kecil (bayi). Go’et itu adalah: “Wan wae, etan ase”  (Air ke bawah, adik ke atas). Ini menyiratkan harapan kaum tua akan pertumbuhan dan perkembangan bagi yang  muda.
Go’et atau Pribahasa Manggarai
Peribahasa atau geo’t manggarai adalah gaya bahasa yang menunjukan kesantunan sesorang atau penutur untuk memilih setiap ungkapan yang disetarakan dalam kejadian untuk memberikan indang atau nasihat supaya jangan seperti itu atau jangan melakukan sesuatu yang melanggar karena, jika melanggar kita akan mendapatkan akibatnya. beberapa conto go’et yang harus kita patuhi. Ungkapan-ungkapan ini penulis mengambil sisi budaya di Manggarai
  1. visi:  lempo haeng leso, uwa haeng wulang, langkas  haeng ntala
  2. Harapan orang tua tehadap anak: cukup  kami yang menderita, kamu harus lebih baik
  3. Pengorbanan orang tua: rela berhutang (jual harta: tanah / hewan, kredit) demi menyekolahkan anak
  4. Gotong royong: leles / dodo /arisan: manga  weri manga todo; pesta sekolah
  5. Pasrah  kepada Yang Ilahi:  mau toe  baeng  le Morin (semoga Tuhan berbelas kasih)
  6. Hasrat  yang  kuat: rani  nai, harat nanang : kemauan, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.
  7.  Determinasi:

Pola Budaya  Manggarai yang membuat   kepribadian lebih baik:

  1. Sopan santun : Inggos  wale  io  – paes  wae  tae:
  2. Tahu diri: neka ngong ata  lombong lala kali ru lombong  muku (jangan katakan orang jelek pahadal diri sendiri lebih jelek. Harus  ukur  diri, tahu diri)
  3. Sikap adil:  pati gisi arit,  singke  gisi iret (bagi sebaris demi sebaris, belah sebuku demi sebuku)
  4. Jangan mengambil milik orang: Neka daku  ngong  data
  5. Harga diri: sama-sama manga rang (sama-sama  punya  harkat dan martabat)
  6. Kerja sama / Persatuan : lonto leok
  7. Rela hidup prihatin: pai’t – pa’it  nai ( hidup prihatin, apa  adanya)
  8. Tawa lima gantang, reges lima leke
  9. olidaritas:Neka paing kole tai, neka panta kole diang.jangan mengambil kembali apa yang sudah diberikan dan jangan mengulanginya lagi perbutan itu.
Kepribadaian Orang Manggarai yang Khas
Orang manggarai memiliki kepribadian dan gaya bahasa yang santun dalam bertutur, penulis disini mengambil sampel kecil bagimana gaya berkomunikasi sebagaimana mestinya yang dalam arti harus menekan pada kesantunan berbahasa. Kesantunan berbahasa yang dimaksud penulis adalah jika berkomunikasi, kita harus memposisikan diri kita jika menjawab orang yang lebih tua dari kita dan bagaimana kita menjawab teman dan adik kita. Dalam sebuah lagu manggarai
Contoh:
Io/iyo: untuk yang lebih tua atau yang kita hormati
Ha?: untuk adik atau yang lebih muda.
Presepsi penutur dan penerima pesan Terhadap Kelogisan Informasi

Masyarakat Manggarai dikenal dengan sikap ramah tamah, dan santun. Ini terlihat dengan prinsip sifat “Mori adak lejong ite bo ko” (tuan rumah baik kepada tamu/pendatang) yang menjadi jalan dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat pendatang. Sikap persahabatan, saling pengertian, dan bahkan persaudaraan kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari antara masyarakat Manggarai dan kaum pendatang. Hubungan orang Manggarai dengan masyarakat pendatang dari berbagai etnik dalam konteks apa pun-keseharian, pendidikan, bisnis, politik, dan sebagainya-dilakukan melalui komunikasi yang efektif.

Perkenalan pribadi, pembicaraan dari hati ke hati, gaya dan ragam bahasa (termasuk logat bicara), cara bicara (paralinguistik), bahasa tubuh, ekspresi wajah, cara menyapa, dan aktivitas-aktivitas lain yang dilakukan menjadi ciri dari masyarakat Manggarai. Dalam hal ini jelas bahwa dalam proses interaksi/komunikasi, orang Manggarai lebih mengutamakan sikap ramah untuk membangun hubungan yang harmonis dalam masyarakat ketimbang sikap emosi.

 

Presepsi penutur terhadap Gaya Komunikasi

Dalam proses komunikasi, masyarakat Manggarai lebih cenderung memakai pola komunikasi langsung (tanpa perantara). Hal ini didorong oleh budaya mengunjungi sesama/ silaturahmi yang kental dalam masyarakatManggari. Informasi pun disampaikan secara langsung dengan pola tatap muka dan mengarah pada pembicaraan yang bersifat formal dengan sedikit basa-basi/gurauan.

 

 

 

Gaya bahasa dalam Pola Negosiasi

Dalam proses negosiasi masyarakat Manggarai cenderung mengutamakan perundingan dengan menekankan pada kedekatan/kekerabatan dengan mengedapan gaya bahasa yang meredam dengan istilah “hambor” . Dalam menyelesaikan masalah yang bersifat konflik orang Manggarai lebih menggunakan pertimbangan hati/perasaan daripada otak dengan tujuan menjaga hubungan kekerabatan. Pilihan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan lebih menjadi pilihan tepat dalam mengambil keputusan dengan “lonto cama” duduk bersama “ mai lonto, tau bantang cama”

Pandangan terhadap Informasi tentang Individu

Masyarakat suku Manggarai cukup selektif dalam menerima informasi dari seorang individu. Informasi akan mudah diterima, apabila sosok individu penyampai informasi (komunikator) lebih dikenal latar belakangnya oleh masyarakat sekitar. Kejelasan sosok individu komunikator akan menentukan sikap penerimaan atas pesan yang disampaikan. Begitu halnya dalam proses interaksi, penilaian terhadap individu lebih ditekankan pada informasi tentang siapa, status, dan profesi/keahlian yang dimiliki. Namun dalam proses penerimaannya, masyarakat Manggarai tidak terlalu memikirkan perbedaan latar belakang individu (sosial, budaya, etnik, agama), mereka biasanya bisa langsung menyatu dalam kehidupan bermasyarakat.

Bentuk Pesan Informasi

Masyarakat Manggarai dalam proses interaksi dengan latar belakang kebudayaan sama cenderung menggunakan bahasa verbal berupa bahasa Manggarai itu sendiri dalam menyampaikan pesan. Sehingga pesan yang disampaikan bisa dimengerti dengan mudah.

Reaksi terhadap sesuatu

Masyarakat Manggarai termasuk masyarakat yang ekspresif dalam menerima rangsangan. Respon atas rangsangan biasanya terlihat dari perilaku yang ditunjukkan orang Manggari. Sebagai contoh, saat ada salah satu masyarakat yang terkena musibah, dengan sikap orang Manggarai akan langsung memberikan pertolongan (sikap empati). (LCC)

Memandang in group dan out group

Masyarakat Manggari cenderung luwes dalam melihat perbedaan dalam kelompoknya dan luar kelompoknya dengan menjadikan kelompok lain sebagai referensi untuk menilai kelompoknya. Selain itu pola hubungan tetap terbangun diantara kelompoknya dan kelompok lain.

Sifat pertalian antarpribadi

Masyarakat Manggarai memiliki sifat pertalian yang kuat dalam masyarakat. Jalinan kekerabatan dan silaturahmi yang selalu terjaga menjadi modal orang Manggarai dalam kehidupan bermasyarakat.

Bentuk tradisi-tradisi lisan orang manggarai yang menggambarkan kepribadian.

Ada dua wujud bahasa, yaitu bahasa lisan dan tulis. Bahasa lisan telah digunakan sejak awal peradaban manusia. Beberapa lama kemudian manusia menemukan dan mengenal bahasa tulis. Penggunaan bahasa lisan dan tulis dari dahulu hingga sekarang melahirkan tradisi lisan dan tulis. Di antara banyak bahasa dan dialek di Indonesia, hanya delapan yang memiliki tradisi sastra tulis, diantaranya adalah tradisi tulis Melayu, tradisi tulis Aceh, tradisi tulis Bali, tradisi tulis Sunda, tradisi tulis Sumatera Selatan, tradisi tulis Batak, dan tradisi tulis Sulawesi Selatan (Indonesia Heritage, Jilid 10, 2002)

Sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat mengandalkan tradisi lisan dalam hal pemeliharaan dan pewarisan budaya masyarakat dari generasi ke generasi. Seperti pemeliharaan dan penyampaian ilmu pengetahuan, adat istiadat, sejarah, filsafat moral, agama, kedudukan sosial, dan norma-norma masyarakat. Tradisi lisan menjelma dalam kisah-kisah lisan di berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai nama.

Salah satu hal yang sangat sering dibicarakan dalam sosiolinguistik adalah tradisi lisan. Secara spesifik, tradisi lisan ini dipelajari dalam salah satu disiplin ilmu yaitu dalam membentuk nilai kesastraan untuk menghargai dan menjunjung tinggi nilai moral dari tradisi lisan yang sudah ada. Dari tradisi lisan juga mempelajari dialek-dialek. Yang dimaksud dengan dialek di sini adalah bahasa sekelompok masyarakat yang tinggal di suatu daerah tertentu. Dengan demikian, perbedaan dialek di dalam sebuah bahasa ditentukan oleh letak geografis kelompok pemakainya. Oleh karena itu, dialek juga sering disebut dialek geografis atau dialek regional. Batas-batas alam dapat berupa sungai, gunung, laut, dll.

Dalam pembahasan dari sub ini adalah bagaimana tradisi lisan orang manggarai yang begitu banyak dan memiliki nilai-nilai moral bagi kehidupan masyarakat dengan membentuk jiwa kemanggaraiannya. Sepanjang itu membungkus nilai kehidupan yang hakiki, tradisi lisan orang manggarai hanya merumput dalam jiwa orang manggarai sendiri atau hanya beredar dalam ruang lingkup orang manggarai saja. Asosiasi tradisi lisan manggarai pada perkembangannya sekarang dapat kita lihat bahwa kehadirannya memiliki nilai positif yaitu dapat membangun peradaban di tengah perkembangan dunia ini. Dengan mengedapan prinsip dalam sebuah go’et atau pribahasa yang tidak asing lagi bagi orang manggarai dan peribahasa ini harus ditanamkan “muku ca pu’u neka woleng curup, teu ca ambong neka woleng lako” arti dari go’et ini adalah kita harus bersatu untuk membangun daerah. Bentuk tradisi lisan di Manggarai yang melahirkan cerita rakyat seperti mitos, dongeng dan legenda.

  • Mitos

Mitos adalah cerita tentang peristiwa-peristiwa semihistoris yang menerangkan masalah-masalah akhir kehidupan manusia. Setiap masyarakat pasti memiliki mitos, mitos pada dasarnya bersifat religius, karena memberi rasio pada kepercayaan dan praktek keagamaan. Mitos selalu bertemakan masalah pokok kehidupan manusia, seperti darimana asal manusia dan segala sesuatu yang ada di dunia ini; mengapa manusia ada di bumi, dan ke mana tujuan manusia? Mitos memberikan gambaran dan penjelasan tentang alam semesta yang teratur, yang merupakan latar belakang perilaku yang teratur.

Dalam hal ini penulis akan merangkum beberapa mitos di manggarai

  • Neka tapa haju welu: jangan bakar kayu kemiri. Mitos ini mengarahkan kita untuk tidak membakar kayu kemiri karena menyebabkan asap yang banyak jika memasaka.
  • Neka hang teu le wie : “jangan makan tebu malam hari” karena menyebabkan kita sakit perut.
  • Neka lako le mane babang ranga data : jangan keluar pada saat magrib maksudnya agar tidak masuk angin jahat.
  • Neka jahit le wie: “jangan menjahit malam hari” karena itu dapat menyebabkan tangan luka.
  • Dongeng

Dongeng adalah cerita kreatif yang diakui sebagai khayalan yang bertujuan untuk menghibur. Dongeng bukanlah sejarah. Meskipun demikian, dongeng berisi wejangan atau memberi pelajaran praktis kepada masyarakat.

Beberapa dongeng dari manggarai

  • Dongeng tentang pundik.

Dalam dongeng ini menjelaskan bagaimana kecerdikan dan teknik untuk mencapai sesuatu yang diingikan oleh seorang “pundik” dan menjauhinya dari masalah.

  • Legenda

egenda adalah cerita semihistoris yang turun temurun dari zaman dahulu, yang menceritakan perbuatan-perbuatan pahlawan, perpindahan penduduk dan pembentukan adat kebiasaan lokal. Legenda merupakan campuran antara realisme dan supernatural, perpaduan antara rasional dan irrasional. Fungsi legenda adalah untuk menghibur dan memberi pelajaran serta membangkitkan atau menambahkan kebanggaan orang terhadap keluarga, suku atau bangsanya. Legenda yang terkenal di manggarai adalah legenda tentang asal usul komodo dan ada banyak legenda yang lainnya yaitu tentang asal-usul danau sanonggoang.

Tradisi lisan yang sering dilakukan menurut kejadian atau peristiwa dimanggarai yaitu:

  • Torok tae “jaong adak”

Torok tae merupakan ungkapan adat dikumandangkan oleh seseorang untuk menyambut tamu atau dalam tradisi manggarai “torok tae” digunakan dalam liturgi ekaristi (saat membawa persembahan) dalam gereja.

  • Paci/ rait: semboyan untuk diri sendiri.

Orang Manggarai adalah  orang yang memiliki mimpi “nipi”. Cita-cita itu   umumnya diungkapkan dalam  motto  yang tergambar  dalam paci / pasi/  rait. Paci ini sering diungkapkan  saat pekikan dalam caci “cambuk”  atau  ketika  mengeksprersikan diri dalam  exorcisme dari suatu tekanan / pembebasan  jiwa dari  suatu   pergulatan kehidupan. Paci / pasi / rait  serentak melambangkan visi kehidupan dalam  mana  orang menyatakan  muatan hidup / gambaran kekuatan atau  kualitas  hidupnya yang terungkap secara simbolis  atau metafora. Paci  misalnya,  besi  wara, lalong paan: (besi bara, ayam jantan dari Paan)
contoh;
Besi wara  lalong Pa’n

Kala Rengga  reba  Wela; 

Masyur: Nera Beang Lehang Tana Bombang Palapa

Sama laki toto rani  nai 

Jarot  labok tana

Lalong rombeng  Keor  kole

Todo Lolo Bali

Wewa  nera  ata wela: Fransiskus Jelata

Motang Rua: Kraeng Guru Rombo Pongkor  Ame Numpung

NGGERANG: Wewa Nera Neteng Beang.

Budaya Reis/Ruis, Kearifan Manggarai dalam Memuliakan Tamu
Reis untuk Manggarai bagian Timur (tana eta) atau ruis/ris untuk Manggarai Barat (kempo) adalah konsep kearifan dalam memuliakan tamu ala orang Manggarai yang masih bertahan hingga hari ini. Adagium yang mengatakan tamu adalah raja benar-benar sangat dipahami oleh orang Manggarai dalam budayanya. Kebaikan dan kerahaman seseorang dalam budaya orang Manggarai dapat diukur dari seberapa jauh pemahaman dan aplikasi ris/ruis ini dalam kesehariannya.
Ris adalah cara penyambutan seorang tuan rumah (ngara sekang) jika ada tamu (mekka) yang berkunjung (lambu) kerumahnya. Setelah tamu masuk kedalam rumah, tuan rumah mempersilahkannya duduk. Entah duduk bersila atau duduk di kursi. Tergantung dari kondisi rumah yang dikunjungi.
Biasanya, setelah sang tamu duduk, tuan rumah (semua tuan rumah yang ada pada saat tamu berkunjung; ayah, ibu, anak yang sudah dewasa) akan menyalami sang tamu. Jika tamunya lebih dari satu, harus menyalami semuanya. Bahkan dalam acara adat resmi seperti pernikahan, semua tamu disalami tak peduli tua muda, kecil besar, kecuali memang masih anak-anak. Setelah salaman, maka disitulah sang tuan rumah melakukan reis/ris. Mengucap beberapa kalimat dalam Bahasa Manggarai. Diantara kalimat reis/ruis yang sering diucap pada tamu oleh tuan rumah setelah salaman adalah sebagai berikut.
“Mai ce’e bao go ite….?”
“Ngger cee ro ite….?”
“Mau lambu baong….?”
” Nana, mai ce’e baong?”“Inuk, lako cee baong…?”
Setelah mendengar sang tuan rumah mengucapkan salahsatu kalimat reis/ris diatas, maka sang tamu akan menjawab dengan,
“Ioo…. ite”
“Io…tanta”
:”Iooo… ame”
“Iooo…ine”
Sebenarnya jika dilihat dari struktur kalimat ruis ini sederhana, maka ia berbentuk kata tanya. Arti dalam bahasa Indonesianya kira-kira,
” (kamu) datang tadi…?”.
” Nana,,, datang tadi”, “
“Inuk,,, kesini tadi?”
Sebuah pertanyaan yang tak perlu dan tak penting sebenarnya. Ngapain bertanya apakah sang tamu datang kerumah kita padahal  kita juga sudah tahu bahwa dia memang datang dan sedang ada dirumah kita? Tapi, yah disitulah bentuk penghargaan sang tuan rumahnya. Memang jika diartikan kedalam bahasa Indonesia akan menjadi seperti itu. Tapi jika diucapkan dalam bahasa Manggarai seperti beberapa kalimat diatas, maka akan terasa sakral dan melebihi makna arti terjemahan Bahasa Indonesianya. Ketika sang tuan rumah mengucapkan kalimat ruis, maka itu berarti ia menerima sang tamu dengan tangan terbuka dan dengan segenap keramahan yang ia punya. Sang tamu pun akan merasa dihargai dan kedatangannya disenangi. Maka ia menjawab,
” Iooo… ite”-   “Iya,,,, Pak/Bu (terimakasih)”.
Setelah proses reis/ruis dilakukan, barulah sang tamu bisa mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya kepada tuan rumah. Pun jika sang tamu hanya datang berkunjung dan silaturahim biasa, maka setelah ruis barulah bisa membicarakan topik yang menarik untuk diperbincangkan. Biasanya topik yang sering dibahas dalam silaturahim warga Manggarai (terutama di kampung-kampung pelosok) adalah seputar keadaan kebun, harga Kemiri, Kopi, Sawah, dan topik seputar pertanian lainnnya. Namun jika sedang musim pemilu, maka topik seputar figur calon, anggota DPRD petahana, dan hal-hal lain terkait pemilu akan menjadi topik yang panjang untuk diperbincangkan. Pokoknya tergantung konteks dan situasi kapan sang tamu berkunjung.
Nah, tak lama setelah reis, dan atau jika perbincangan sudah hangat, maka istri tuan rumah akan ke dapur. Menyalakan perapian (kebanyakan kampung di Manggarai masih menggunakan kayu bakar dalam memasak, kecuali di kota). Membuat beberapa gelas kopi hitam sesuai jumlah orang yang sedang berbincang. Bagi warga Manggarai, reis dan Kopi hitam atau teh yang disuguhkan oleh sang tuan rumah adalah sebuah bentuk penyambutan terhadap tamu yang paling ideal. Perkawinan dua kearifan yang akan menyejukkan dan menentramkan hati sang tamu. Tuan rumah dianggap tidak menghargai tamu jika tidak melakukan reis dan menyuguhkan kopi atau teh. Khusus untuk Kopi atau teh, bisa tidak disuguhkan jika tuan rumah memang benar-benar  mempunyai alasan yang kuat untuk tidak melakukannya. Seperti istri tidak sedang di tempat atau hal-hal lain yang diterima secara budaya dan pemakluman umum. Jika kopi telah habis dan tak ada topik yang diperbincangkan, barulah lambu/lejong (berkunjung) berakhir. Biasanya sang tamu dengan penuh sopan akan pamit, juga dalam bahasa Manggarai. nekarabo, ra io hami kole neng mane tanaho ga artinya permisi kami pulang dulu, sudah sore masalahnya.
Demikianlah kearifan orang Manggarai dalam memuliakan tamunya. Sebuah konsep yang hingga hari ini masih bertahan dan dipraktikan oleh ame-ine (ayah-ibu) di Manggarai maupun warga Manggarai di perantauan; pelajar mahasiswa dan pekerja. Bagi warga Manggarai di perantauan, selain memahami pribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, juga tetap menjunjung tinggi kearifan hidup yang diwariskan tanah dading (kampung lahir). Pun jika tamu yang datang berkunjung bukan orang Manggarai dan tidak mengerti Bahasa Manggarai, maka ia akan tetap disalami dan ‘diruis’. Jika itu dilakukan, seringkali sang tamu akan senyum-seyum penuh bingung yang membuat tuan rumah menjelaskan apa makna salaman dan ruis yang dimaksud.
Karena masalah ruis ini juga, kadang para orang tua di Manggarai mewanti-wanti putra-putranya di perantauan agar berhati-hati memilih wanita sebagai istri. Bisa memilih wanita diluar Manggarai, yang penting bisa memahami budaya dan keartifan lokal Manggarai. Tidak perlu cantik yang penting bisa ‘ruis’ -ramah terhadap tamu- dan bisa menyuguhkan kopi. Tentu mendapat gadis luar Manggarai yang cantik plus bisa ruis ala Manggarai adalah jodoh yang paling ideal juga tentunya.
Kain Songke dan bahasa Manggarai, Jalan Menuju Jati Diri : religionalitas

Di zaman lampau, kain tenunan songke dan bahasa Manggarai adalah salah satu penanda karakteristik dan identitas orang Manggarai. Kain songke dikenakan saat upacara-upacara resmi, peminangan, perkawinan, kematian, penjemputan tamu, pertemuan, kunjungan kekeluargaan sebagai busana kebanggaan. Namun, saat industry textile berkembang, pengenaan kain kebanggaan ini mulai luntur. Munculnya kain hasil pabrikan mengalahkan kepopuleran kain home industry ini. Saat ini, jikapun dipakai, belum menjadi sebuah kesadaran umum yang secara otomatis dijadikan main stream.

Demikianpun, pola berbahasa. Sudah banyak orang Manggarai yang tidak mengenal kosa kata bahasa Manggarai yang baku. Ketika banyak penutur torok (doa asli Manggarai) mangkat, generasi baru mengalami kesulitan untuk menjadi penutur torok dalam bahasa yang indah nan kaya makna. Padahal, kekhidmadan upacara atau ritus-ritus orang Manggarai juga terletak dalam diksi bahasa yang tepat, benar dan memukau.

Dalam situasi “kejatuhan” ini, kebijakan Keuskupan Ruteng, untuk menjadikan hari Minggu ke tiga setiap bulan sebagai perayaan inkulturatif merupakan bentuk “pemertahanan” budaya dan nilai-nilainya yang positif. Ada dua gagasan dialogis yang bisa dikemukakan. Pertama, melalui perayaan-perayaan inkulturatif, kain songke dan bahasa Manggarai dijadikan sarana resmi komunikasi iman dalam budaya Manggarai. Sarana ini perlu diterjemahkan lagi ke dalam bentuk-bentuk yang berkiblat pada penguatan jati diri orang Manggarai.

Kedua, dialog itu juga menyentuh ranah ekonomis. Iman harus diterjemahkan ke dalam perbuatan. Dengan makin banyak orang Manggarai yang mengenakan kain songke maka home industry untuk penenunannya makin berkembang. Ada penghargaan yang setimpal terhadap kerja keras penenun yang selama ini mengalami kelesuan dalam memasarkan hasil kerjanya. Tentu arah ini tidak mengharapkan hadirnya teknologi assembling motif kain songke ke dalam pabrikan sehingga yang meraup keuntungan malah pengusaha, bukan rakyat sederhana di kampung-kampung. Penguatan kapasitas ekonomi juga merupakan isi iman. Dengan begitu, iman tidak hanya menghadirkan keselamatan nanti di akhirat (parousia) tetapi, saat ini dan di sini (hit et nunc).

Akhirnya, mengakui inkulturasi adalah sebuah imperatif teologis, berarti melihat dialog yang sedang berlangsung antara iman dan budaya sebagai penegasan kembali identitas dan eksistensi kedirian yang selama ini ditinggalkan dengan mudah tanpa alasan yang memadai. Menggunakan bahasa Manggarai sebagai bahasa injil dan liturgi merupakan bentuk proklamasi bahwa bahasa Manggarai juga merupakan sarana komunikasi Allah yang menyapa umatNya. Mengenakan kain songke dalam perayaan suci ekaristi menandaskan keyakinan bahwa orang Manggarai mencintai apa yang dimilikinya, sebuah perjalanan menemukan dan menegaskan diri secara baru.

Tipologi Lekisikal Bahasa Manggarai Verba “memotong dan pergi”

Dalam bahasa manggarai ada beberapa kata kerja yang harus kita bedakan atau kita telaah lebih lanjut dengan beberapa kata seperti dalam verba memotong (kere, ropo, kuntir) dan pergi (nia, nias, niak) conth verba diaatas merupakan hasil observasi penulis terhadap beberapa dialek manggarai.

Verba Memotong

Pisau bedah yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori MSA. Teori MSA semula diusulkan dan dikembangkan oleh Wierzbicka sejak (1972, 1980, 1991, 1992,1996) dan kolega-koleganya lebih dari tiga dekade (Yoon, 2003). Metabahasa merupakan teori semantik yang digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis objek bahasa, dan objek bahasa yang dikaji adalah bahasa manusia (human language) (Allan, 2001). Teori MSA merupakan sebuah telaahan semantik leksikal yang berasumsi bahwa pada suatu bahasa terdapat seperangkat makna yang tidak dapat diuraikan lagi menjadi lebih sederhana. Jadi, makna leksikal yang lebih sederhana itu disebut makna asali (Yoon, 2003). Dalam kaitannya dengan makna asali, Goddard (1996) menjelaskan bahwa makna asali adalah perangkat makna yang tidak dapat berubah karena diwariskan sejak lahir, dan hasil refleksi dari pemikiran manusia yang mendasar.

MSA merupakan sebuah teori yang mengaitkan linguistik dengan ilmu-ilmu lain di luar linguistik di antaranya filsafat, antropologi dan psikologi. Beberapa bidang ilmu tersebut telah direpesentasikan melalui makna asali.

Linguistik dalam ilmu filsafat misalnya, memainkan peran yang sangat penting. Pentingnya linguistik dalam ilmu filsafat terutama untuk mengekspresikan atau mengaktualisasikan hasil perenungan filosofis seseorang. Fakta telah menunjukkan bahwa ungkapan pikiran dan hasil-hasil perenungan filosofis seseorang tidak dapat dilakukan tanpa bahasa. Tanpa bahasa, seseorang tidak mungkin bisa mengungkapkan hasil-hasil perenungan kefilsafatannya kepada orang lain (Hidayat, 2009:31). Segala sesuatu yang akan dilakukan harus didahului dengan berpikir. Melalui berpikir kita dapat mengonstruksikan pengalaman atau cara kita mengekspresikan atau mengklasifikasikan dunia nyata. Bagaimanapun makna bahasa merupakan hasil konfigurasi pikiran manusia. Makna asali sebagai inti dari teori MSA merupakan salah satu aspek yang mencerminkan hasil perenungan tersebut. Melalui makna asali akan tergambar cara berpikir seseorang tentang sesuatu yang ada dalam dunia nyata.

Linguistik pula berperan penting dengan antropologi. Penggunaan linguistik melalui parameter antropologi seperti benda-benda budaya, penamaan benda budaya, unsur mitos dan metafora, dan tradisi masyaraskat. Beberapa parameter antropologi tersebut dikodekan melalui bahasa. Bentuk pengkodeannya bisa terjadi melalui lexicalize, gramaticalize, textualize, dan culturalize. Pengkodean masing-masing budaya tentu mengalami perbedaan atau bervariasi. Perbedaan pengkodean dapat dilihat pada tingkat kekayaan leksikon, gramatikal, teks, dan budaya. Faktor penyebab terjadinya perbedaan tersebut terletak pada tatanan cara kita mengekspresikan pengalaman kita tentang dunia nyata melalui bahasa.

Selain itu, linguistik pula memiliki hubungan dengan psikologi. Bahasa dikaitkan dengan parameter psikologi di antaranya motivasi, emosi (baik dan buruk), dan pengendalian diri. Bahasa dalam konteks ini berperan penting dalam mengekspresikan atau mengaktualisasikan motivasi, emosi dan pengendalian diri seseorang. Hal ini tampak jelas dalam kaitannya dengan hasil yang diinginkan seseorang dalam melakukan sesuatu. Keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu cenderung tidak sama dengan yang lainnya, misalnya dalam hal memotong. Di satu sisi, seseorang ingin memotong sesuatu, ‘sesuatu yang buruk terjadi’, misalnya kasar, agak besar, acak-acakan, dan bentuknya jelek. Di sisi lain, seseorang ingin memotong sesuatu, ‘sesuatu yang baik terjadi’ misalnya halus. Fitur-fitur pembeda tersebut terletak pada motivasi atau keinginan seseorang terhadap sesuatu yang diperlakukan. Dengan demikian, makna asali merupakan objek kajian yang sangat penting dalam aspek makna bahasa. Karena makna asali sebagai inti untuk mengembangkan aspek makna bahasa yang lebih luas.

Selain makna asali, ada pula beberapa konsep penting lain dalam teori MSA di antaranya polisemi, aloleksi dan pilihan valensi dan sintaksis makna. Polisemi dalam teori MSA merupakan bentuk leksikon tunggal untuk mengekspresikan dua makna asali yang berbeda. Keduanya tidak ada hubungan komposisi (takkomposisi) karena masing-masing mempunyai kerangka gramatikal yang berbeda. Polisemi juga sebagai aspek utama dalam menghubungkan semantik dan sintaksis. Oleh karena itu, polisemi dipandang sebagai salah satu aspek untuk menghubungkan leksikal dengan sintaksis (leksiko-sintaksis), bentuk dan korespondensi makna. Bentuk hubungannya, yaitu hubungan yang menyerupai pengartian (entailment like relationship). Misalnya, dalam bahasa Inggris, verba cutting merupakan ekspresi dari MELAKUKAN dan TERJADI. Polisemi MELAKUKAN dan TERJADI mengacu pada relasi instrumen dari bentuk  someone X is doing something to something Y with something else Z for some time because of this, something is happening at the same time to thing Y as this someone wanted (Goddard, t.t).

Konsep aloleksi juga merupakan aspek penting dalam teori MSA yaitu menjelaskan beberapa bentuk kata yang berbeda untuk mengungkapkan suatu makna tunggal. Misalnya I dan me, sebagai aloleksi posisional, someone dan person, sebagai aloleksi kombinatorial, dan lain-lain sebagainya.

Aspek valensi tidak kala penting dalam kajian MSA. Verba mengandung makna inhren tindakan yang berkemampuan untuk mengikat dua atau lebih argumen. Verba dapat bervalensi dua atau lebih argumen. Secara semantis verba berperan sangat penting dalam mengontrol jumlah argumen yang dibutuhkan oleh verba itu sendiri.

Dari aspek sintaksis verba dinilai sebagai struktur makna yang sangat kompleks, yaitu terdiri atas komponen berstruktur:  someone is doing something to thing  with thing  for some time because of this, something is happening at the same time to thing as this someone wanted. Perilaku sintaksis tersebut berkaitan erat dengan makna dan sifat ketransitivan verba. Hal inilah pola hubungan semantik leksikal dengan sintaksis atau disebut leksiko-sintaksis. Makna asali, aloleksi, polisemi, pilihan valensi, dan  makna sintaksis dalam teori MSA sangat relevan diterapkan dalam Bahasa Manggarai.

Kemudian, teori MSA  juga mengkaji data (berupa leksikon, atau kalimat) dari bahasa asali dengan tujuan untuk mengeksplikasi semua data yang telah dikonstruksikan agar batasannya menjadi lebih jelas. Semua data tersebut dieksplikasi dengan cara parafrase untuk mereduksi makna menjadi seperangkat makna yang paling sederhana (Murphy, 2010). Lebih lanjut Yoon (2003) menjelaskan bahwa untuk menghindari ketidakjelasan makna atau makna yang berputar-putar, dan kesewenangan dalam memaknai bahasa, atau batasan suatu kata atau ujaran harus direpresentasikan melalui MSA.

Pemilihan teori MSA berdasarkan atas pertimbangan: (1) teori ini dirancang untuk mengekplikasi semua makna, baik makna leksikal, makna gramatikal, maupun makna ilokusi, (2) kondisi alami sebuah bahasa adalah mempertahankan satu bentuk untuk satu makna dan satu makna untuk satu bentuk, (3) teori ini dapat mengeksplikasi makna dibingkai dalam sebuah metabahasa yang bersumber dari bahasa alami (Goddard dan Wierzbicka, 1994:22; Goddard dan Peeters dalam Benjamins, 2006:27).

Prinsip dasar pendekatan MSA, selain mereduksi makna leksikon dengan cara parafrase yang mempunyai kerangka eksplikasi secara sistematis dalam suatu parafrase yang paling sederhana, tetapi MSA juga mengandung konsep makna asali yaitu makna leksikon yang tidak dapat diparafrasekan lagi menjadi lebih sederhana. Pemetaan eksponen dan eksplikasi melalui parafrase tersebut perlu dilakukan agar terhindar dari ketidakjelasan makna dan makna yang berputar-putar serta kesewenangan menggunakan bahasa (Yoon, 2003).

Mekanisme kerja teori MSA yaitu menganalisis makna leksikon dengan metode pemetaan eksponen dan eksplikasi melalui parafrase. Pemetaan eksponen, subkomponen serta eksplikasi makna tersebut meliputi entitas yang dikenai perlakuan, alat yang digunakan, kekhasan gerakan, hasil yang diharapkan. Melalui metode eksplikasi tersebut dapat membedakan fitur-fitur semantik dari setiap leksikon.

Untuk menentukan fitur distingtif dari setiap leksikon tergantung pada penggunaan beberapa aspek berikut: (1) seseorang X terdiri atas: anak-anak, orang dewasa, ibu, bapak, nenek, kakek, dan (2) motivasi seseorang X melakukan sesuatu atas dasar ketulusan, benci, marah, dendam, (3) sesuatu Y dapat berupa manusia, hewan, pohon, rumput, daun, buah, tali, kain, dan sayur-sayuran, (4) sesuatu Z dapat berupa pisau, parang kecil, parang besar, parang tajam, parang tumpul, kapak, sabit, dan ekor ikan, sekop, silet, peketo ‘alat memotong padi ladang’, bambu iris (lampek), gunting, dan tangan (5) cara menggunakan alat misalnya, menyentuh, tanpa menyentuh, gerak lurus, gerak miring, hanya sekali atau dua kali atau berulang-ulang, (6) hasil yang diinginkan berupa potongan agak halus, kasar, kecil-kecil, besar-besar, pendek-pendek, panjang-panjang, rata, tajam, terpisah, tidak terpisah, satu bagian, dua bagian, beberapa bagian, sedikit, banyak. Keenam hal di atas merupakan fitur-fitur semantik yang dimiliki secara inheren oleh setiap leksikon walaupun masih dalam medan makna yang sama. Untuk eksplikasi tersebut, Goddard (t.t) mengklasifikasikan dalam beberapa bagian yaitu lexico-syntactic frame, prototypical motivational scenario, instrument, dan using the instrument, serta what happening to the object.

Data menunjukkan bahwa verba “memotong” dalam BM Subdialek Kempo diklasifikasikan atas beberapa bagian, yaitu  (1) memotong pada manusia dengan realisasi leksikal sebagai berikut: longke, poro, dan kuir, (2) memotong pada hewan dengan realisasi leksikal sebagai berikut:  mbele, paki, lecap, ndota, ca’e, dawo, ciang, ropo, kuntir, ndola, ciang, saser, tu’i, carik, kurit, duti, leak, rebut, (3) memotong pohon dengan realisasi leksikal sebagai berikut: poka, keto, campi, wancing, we’ang, rucik, coco, cicik, nggi’it, cikat, weset, wigak, wi’ak, wikak, cingke, kiru, kuir, panco, ri’ok, oro, cecak, tesi, dunca, doca, cangkol, retep, wincil, lea, wi’il, susir, kepu, tega, ngeteng, lempa, pante, (4) memotong rumput dengan realisasi leksikal verba sebagai berikut: ako, arep, peketo, babar, sasap, sangko, batir, kebut, (5) memotong daun dengan realisasi leksikal verba sebagai berikut ciak, sarit, lata, koer, rekut, rekut, kiru, kocok, rekok, rikok, (6) memotong buah dengan realisasi leksikal verba sebagai berikut: pu’a, lesep, kasi, pu’ik, kengket, ro’e, wegek, giok, cuat, roke, cepuk, cucik, lasar, wetok, ciel, wegak, liser, kilu, rongket, pangkang, kikir, (7) memotong tali dengan realisasi leksikal verba sebagai berikut: wingke, wicok, wete, keti, kocel, rais, kere, kandit, dan (8) memotong kain dengan realisasi leksikal verba sebagai berikut: wirot, rotas, kerek, gunting.

Realisasi leksikal verba “memotong” pada manusia di antaranya longke, poro dan kuntir. Leksikon longke, poro dan kuntir merupakan verba yang mengandung makna inheren perbuatan atau tindakan. Verba tindakan tersebut berkemampuan untuk mengikat dua argumen yaitu siapa yang melakukan, dan kepada siapa dia melakukannya.

Contoh penggunaan verba longke dalam kalimat:

(1)   Hia   laing     longke      wuk-n       na

‘Dia sedang  pangkas     rambut-3T Part’

(Dia sedang memangkas rambutnya)

 

Verba longke terdiri atas tiga slot substantif, yaitu slot subjek, slot objek, dan slot komplemen. Misalnya (1) someone (hia), (2) did something (wuk), (3) to someone ( ase-n). Meskipun verba longke terdiri atas tiga slot substantif, namun pilihan valensinya terdiri atas dua, yaitu (A) someone did something (hia longke wuk) dan (B) someone did something to someone (Ame longke wuk de ase-n).

Secara semantis valensi verba longke dalam kalimat di atas terdiri atas dua argumen, yaitu hia sebagai argumen agen dan wuk de ase-n sebagai pasien. Pemarkahan enklitik–n pada Nomina ase mengacu kepada pronomina persona diri ketiga tunggal hia. Verba longke bisa diletakan pada awal kalimat untuk menyatakan suruhan kepada orang lain misalnya: Longke ge wuk diha ho’o lau ra! (Kau pangkas rambutnya dia ini!). Kemudian untuk merespons pertanyaan siapa yang melakukan adalah pronomina persona ketiga tunggal liha. Misalnya Liha ata longke wuk de ase-n meseng (Dia yang memangkas rambut adiknya kemarin). Ketiga bentuk hia, diha, dan liha merupakan sebuah aloleksi posisional. Dikatakan demikian karena distribusi bentuk alternasinya tergantung posisi misalnya hia, liha berposisi sebelum verba (pre-verbally) dan diha posisi ditempat lain. Kalimat suruhan di atas secara makna dinilai agak kasar. Untuk mengetahui kasar atau tidaknya kalimat tersebut tergantung pada penggunaan pronomina persona tunggal misalnya lau ‘kau’ dan lite ‘Anda’. Perbedaannya, lau digunakan untuk menyapa orang lain dengan kasar, sedangkan lite digunakan untuk menyapa orang lain dengan halus.

Begitu pula pronomina persona tunggal hau, gau dan lau merupakan sebuah aloleksi posisional. Gau merupakan bentuk posesif dari hau sedangkan lau untuk merespons pertanyaan siapa yang melakukannya. Ketiga bentuk tersebut memiliki kesamaan makna ‘kau’ namun perbedaannya terletak pada distribusi bentuk alternasi.

Secara semantis verba longke berkolokasi dengan wulu ‘buluh’ sekitar seluruh bagian tubuh mansuia. Dikatakan demikian karena setelah verba longke tidak dapat disubsitusikan dengan Nomina lain selain wuk atau wulu  Perhatikan bentuk kolokasi verba longke berikut ini.

longke wuk ‘gunting rambut’, longke wulu kipi ‘gunting kumis’, longke wulu janggok ‘gunting janggut’, longke wulu papar ‘gunting kecambang’, longke wulu mata ‘gunting bulu mata’, longke wulu lele ‘gunting bulu ketiak’, longke wulu roweng ‘gunting bulu dada’, longke wulu wai ‘gunting bulu kaki’.

Leksikon longke dimaknai “memangkas bagian rambut menjadi beberapa bagian” memerlukan alat berupa gunting/pisau tajam, dengan cara menggerakan tangan dari arah belakang ke depan atau sebaliknya terarah pada entitas yang diperlakukan. Pemetaan eksponennya sebagai berikut. “Seseorang X longke Y dengan menggunakan gunting atau pisau tajam Z dengan gerak dari belakang ke depan atau sebaliknya terarah langsung dengan hasil berupa entitas berbentuk potongan pendek-pendek”, Y menjadi beberapa potongan yang terpisah. Dengan subeksponennya: “X  longke  Y”, “sesuatu yang baik terjadi”.

Verba Ngo: pergi

Kata ngo dalam Bahasa Indonesia artinya pergi. Dalam bahasa Inggris, kata pergi, dibagi dalam tiga bentuk waktu go, went, gone. Orang kedua tunggal ditambah dengan es/es. Misalnya, he goes to there, I go there.

Akan tetapi, dalam Bahasa Manggarai kata go/goes atau pergi ditambah dengan anak abjad untuk menenerangkan maksud tertentu tidak seperti dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang ditambah dengan kata bantu diri pertama tunggal, diri kedua tunggal, diri ketiga jamak seperti saya, dia, kita, mereka tetapi kata dasarnya cukup ditambah satu huruf abjad saja yang saya sebut sebagai dehakamenpresty.

Contoh kalimat:

Ngo nia ge?

Ngo nia ge? Sekarang kita pergi ke mana?Sekarang Anda/engkau pergi ke mana. Syntax ini adalah perkataan satu, dua atau beberapa orang bisa ditunjukkan kepada satu, dua atau beberapa orang. Kalimat bisa bentuk ajakan, mengajak, bisa menanyakan fokus pergi dari satu, dua atau beberapa orang tetapi sifat maksud pergi tersebut sangat umum sekali.

Contoh percakapan:

Melky                         : Ngo nia ge? Ke mana sekarang?

Marten                                    : Ngo wa ho’o e! Saya pergi ke bawah sana!

Marten & Vino           : Ngo wa ho’o ami e! Kami ke bawah sana!

 

Melky                         : Ngo nia meu ge? Kalian pergi ke mana?

Marten & Vino           : Ngo rocik haju wa ho’o e! Kami pergi mencari kayu ke bawah sana!

Ngo niad ge?

Ngo niad ge? Sekarang kita pergi ke mana? Sintaksis (syntax) ini adalah kalimat untuk mengajak seorang teman atau satu dua teman yang berdekatan/berjauhan per telpon, facebook, SMS. Bisa juga untuk mengajak massa yang begitu banyak. Jadi, yang mengajak di sini seseorang atau beberapa orang secara bersamaan atau berbeda waktu dari satu, dua atau beberapa orang.

Contoh percakapan:

Melky                         : Ngo niad ge? Kita ke mana sekarang?

Marten                                    : Ngo cumang hi naca dakud ta! Kita pergi ketemu pacarku!

Ngo niah ge?

Ngo niah ge? Engkau/Anda pergi ke mana sekarang? Syntax ini adalah perkataan yang dilakukan satu, dua atau beberapa orang yang ditunjukkan hanya kepada seseorang saja. Kalimat niah ge berarti subjek tersebut hanya satu orang saja. Dan, syntax ini menunjukkan sebuah fokus maksud pergi seseorang.

Contoh percakapan:

Melky                         : Ngo niah ge? Engkau pergi ke mana sekarang?

Marten                                    : Lako-lako kat e! Jalan-jalan saja!

Ngo niak ge?

Ngo niak ge? Saya disuruh pergi ke mana sekarang? Syntax ini adalah perkataan orang kedua tunggal dari sebuah percakapan karena penyuruhan atau perintah teman setingkat atau  atasan yang dikenahi marah dari bawahan. Syntax ini adalah perintah menyuruh orang lain untuk segera melakukan sesuatu.

Contoh percakapan:

Melky                         : Ngo niak ge? Saya diperintah ke mana sekarang?

Marten                       : Ngo eta Keraeng Raja e! Pergi ke Raja!

Ngo niak ge ta?

Sedangkan,

Ngo niak ge ta! Saya pergi ke mana sekarang? Syntax ini adalah komunikasi intrapersonal, bisa dalam hati tetapi bisa diungkapkan kepada orang karena merasa kebingungan. Namun, terkadang tidak bermaksud untuk berbicara dengan orang lain. Kalimat ini semacam kalimat komunikasi interpersonal retoris. Alasannya ada kekurangan. Maka, dia menyuruh dirinya sendiri untuk pergi mencari sesuatu agar mendapat sesuatu atau sekedar anjangsana.

Contoh percakapan:

Melky                         : Ngo niak ge ta? Saya sekarang pergi ke mana?

Marten                       : Aikm ta, asa neng le rum! Terserah Anda toh. Keputusan ada di tangan

Anda?

  • Ngo niam ge?

Ngo niam ge? Kalian pergi ke mana sekarang? Syntax ini menunjukkan bahwa yang pergi itu banyak orang, lebih dari satu subjek.

Contoh percakapan:

Melky                         : Ngo niam ge? Kalian pergi ke mana sekarang?

Marten & Vino           : Aeh, ngo pekang ikang e! Aeh, kami pergi memancing ikan sekarang!

  • Ngo nian kat!

Ngo nian kat! Pergi ke mana saja. Syntax ini menunjukkan ketidakjelasan fokus maksud pergi. Kalimat ini adalah kalimat interdepensi/ketergantungan, tidak ada keharusan untuk jadi melakukan atau tidak. Kalimat ini bisa dipakai untuk satu, dua atau beberapa orang dan berlaku untuk diri pertama tunggal, diri kedua tunggal dan diri ketiga jamak. Kalimat ini dilakukan bisa berdasarkan instruksi, bisa saja tidak.

Contoh percakapan:

Melky                         : Co’oy ga, lako niad ge? Bagaimana sudah, jalan ke mana!

Marten                                    : Lako nian kat ta de! Jalan ke mana saja!

Melky                         : Nia ata diad hang so’o ge? Mana yang baik ini makanan?

Marten                                    : Pande nian kat ta de! Makan yang mana saja, terserah!

Melky                         : Co’os ge ta, cait manga ata toem te’ed nderu so’o e? Bagaimana sudah,

di sini masih ada jeruk yang belum matang!

Marten                                    : Hang nian kat ta de! Makan yang mana saja!

Melky                         : Lonto niad ge? Kita duduk di mana?

Marten                                    : Nia-nian kat ta! Di mana saja!

  • Ngo niap ge?

Ngo niap ge? Sekarang kamu pergi ke mana? Sekarang kita pergi ke mana? Sekararang kalian pergi ke mana? Syntax ini adalah bentuk kalimat perintah dan diperintah, bertanya dan ditanya. Seseorang saya perintah atau saya diperintah oleh seseorang atau saya bertanya kepada seseorang atau seseorang bertanya (pergi) kepada saya.

Contoh percakapan:

Melky                         : Ngo niap ge? Saya pergi ke mana sekarang?

Marten                        : Ngo wa Mbaru Wunut e! Ke Rumah Ijuk sekarang!

Melky                         : Ngo niap ge? Kita pergi ke mana sekarang?

Marten                        : Ngo wa Mbaru Wubut de! Kita ke Rumah Wunut sekarang!

Melky                         : Ngo niap ge? Kamu pergi ke mana sekarang?

Marten                        : Ngo kawe seng tadu lopa e! Pergi mencari uang tutupan!

Melky                         : Niap de haun ta? Mana kau punya?

Marten                      : Ho’op dakun ta de? Ini saya punya!

  • Ngo niar ge?

Ngo niar ge? Sekarang kita pergi ke mana? Syntax ini sangat jelas karena merupakan kumpulan subjek pengajakan yang terdiri dari dua atau beberapa orang. Niar ge sangat jelas menunjukkan fokus maksud pergi dari satu atau lebih orang. Niar ge berarti yang diajak itu banyak orang. Fokus tempatnya tidak jelas karena fokus tempat pergi sudah tidak jelas. Tidak ada perjanjian pertemuan dengan subjek yang dijanjikan.

Contoh percakapan:

Melky             : Ngo niar ge? Sekarang kita pergi ke mana?

Marten             : Ngo eta ho’od ta! Kita pergi ke atas sana!

Marten &Vino: Ngo ceak pake de! Pergi cari katak saja!

Melky             : Kawe niar ge? Kita cari di mana sudah?

Marten            : Kawe lau ho’od de! Kita cara di bawah sana itu!

  • Ngo nias ge?

Ngo nias ge? Tadi mereka pergi ke mana? Sekarang bisa pergi ke mana. Syntax ini adalah kalimat pertanyaan dari satu, dua atau beberapa orang yang ditujukan kepada lebih dari satu orang. Jadi, hanya bermaksud menanyakan tujuan fokus maksud pergi mereka. Kalimat ini bisa barusan berlangsung atau sedang berlangsung.

Contoh percakapan:

Melky : Ngo nias ge? Tadi  mereka hendak pergi ke mana? atau

Sekarang mereka mau pergi ke mana?

Marten  : Aik de, am ngo wa tokongs! Tidak tahu lagi mungkin mereka pergi ke pertokoan! atau

Aik de, aram ngo wa tokong ise! Tidak tahu lagi mungkin mereka pergi ke toko.

Jadi, kata tokongs/tokong ise menunjukkan jamak, orang jamak, mereka.

  • Ngo niat te?

Ngo niat te? Syntax ini hampir sama dengan kalimat ngo niad ge hanya dia lebih tekan sedikit. Kalimat ini sering muncul karena ada suatu hal yang mesti dicari dan harus didapat karena ada kekurangan. Kalimat ini adalah kalimat ajakan permintaan keharusan. Kalimat ini juga muncul dalam keadaan emergency atau darurat. Misalnya, ada seseorang yang sakit lalu butuh sekantong darah. Dokter menyuruh agar segera mencarikan orang untuk didonor untuk mendapat sekantong darah, bila tidak seorang pasien tidak akan selamat. Karena itu, disebut kalimat ajakan permintaan keharusan. Dokter berkata: “Orang ini baru selamat hanya dengan sekantong darah!”.

Contoh percakapan:

Gumbang                    : Kawe niat te? Kita cari di mana?

Air                               : Kawe one sekola-sekola e! Cari di sekolah-sekolah!

  • Ngo niay ge?

Ngo niay ge? Dia tadi sudah pergi ke mana? Dia sekarang pergi ke mana? Syntax ini adalah perkataan dari satu, dua atau beberapa orang kepada seseorang atau lebih orang dengan maksud menanyakan fokus maksud pergi dari hanya seseorang saja yang sudah dan sedang dilakukan. Huruf y menunjukkan hanya diri satu orang, tunggal.

Contoh percakapan:

Melky        : Ngo niay ge? Dia tadi sudah pergi ke mana? Dia sekarang pergi ke mana?

Marten      : Aikn ne, am ngo kawe kala rana leboy! Tidak tahu lagi, mungkin dia pergi

mencari gadis cantik!

Selain itu, dalam Bahasa Manggarai, kata dasar NGO di atas setelah ditambah dengan kata NIA yang juga ditambah dengan dehakamenpresty maka akan menghasilkan bunyi dan maksud kata yang berbeda dengan subjek dan bentuk waktu yang berbeda dan sekaligus tujuan berbeda. Namun, kata NGO itu sendiri juga akan senantiasa ditambah dengan dehakamenpresty, seperti dijelaskan di bawah ini:

NGOP: Anda, kamu harus pergi sekaran!

Ngop menunjukkan diri pertama tunggal, diri kedua tunggal, dan diri ketiga jamak

Contoh kalimat:

Ngop ta de! Engkau pergi sudah!

Ngop meu ge! Kalian pergi sudah!

Ngop hiap ta! Dia pergi sudah!

NGOM: Kalian pergi sekarang!

Kata ini menunjukkan diri kedua tunggal dan diri ketiga jamak

Contoh kalimat:

Ngom ta de! Kamu harus pergi!

Toe ngom ko? Kamu tidak pergi?

Asi ngom me! Engkau jangan pergi!

Maram ngom me, ai co’om laku to’ong! Biarkanlah kalian pergi, aku tak peduli!

Ngom taung hau ta! Kau terus saja pergi ke sana!

NGOD: Kita (beberapa orang) pergi sekarang, pergi nanti.

Ngod menunjukkan diri pertama tunggal, diri kedua tunggal, dan diri ketiga jamak.

Contoh kalimat:

Ngod ta de! Bagaimana kita pergi sudah?

Toe ngod ko? Bagaimana kita tidak jadi pergi?

Diang po ngod de! Besok baru kita pergi!

NGOK: Aku (harus/akan) segera pergi sekarang, nanti.

Ngok menunjukkan diri pertama tunggal, yaitu aku , saya.

Contoh kalimat:

Ngok ge! Saya pergi sudah! Saya pergi sekarang!

To’ong po ngok e! Sebentar baru saya pergi!

Diang po ngok e! Besok baru saya pergi!

NGOH: Kau (harus) segera pergi.

Ngoh menunjukkan diri kedua tunggal.

Contoh kalimat:

Ngoh ge! Kau pergi sudah! Kalimat ini menyuruh seseorang untuk lekas pergi.

Ngoh ge ta! Kau pergi sudah! Kalimat ini bersifat pressure karena menyuruh pergi seseorang dengan paksa.

NGOR: Kita (bersama) harus segera pergi sekarang, nanti.

Ngor menunjukkan diri pertama tunggal, diri kedua tunggal, dan diri ketiga jamak.

Ngor bisa berupa ajakan.

Contoh kalimat:

Ngor ge ta de! Ayo mari kita pergi sekarang!

 

NGOS: Mereka sudah pergi!

Ngos menunjukkan diri ketiga jamak.

Contoh kalimat:

Ngos ge! Mereka barusan pergi!

Ngos bo ge! Mereka tadi sudah pergi!

NGOT: Kita harus sudah segera pergi.

Ngot menunjukkan diri pertama tunggal, diri kedua tunggal, dan diri ketiga jamak.

Contoh kalimat:

Ngot ge! Ayo, sekarang kita pergi. Kalimat ini menunjukkan kememangan sekarang.

NGOY: Dia barusan/sudah lama pergi.

Ngoy menunjukkan diri kedua tunggal, yaitu dia. Kalimat ini menunjukkan aktivitas kepergian yang sudah sedang terjadi, sedang terjadi dan sudah terjadi.

Contoh kalimat:

Ngoy bo ge! Tadi dia barusan pergi!

Ngoy one pisa ge! Dia sudah lama pergi! Sudah lama dia pergi.

Ngoy ge/gi! Dia barusan pergi!

Kata “Nekarabo Sebagai Budaya Kesantunan Orang Manggarai

Dalam ranah Sosiolinguistik, sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengkaji bahasa dan masyarakat (linguistik dan sosiologi), disebutkan bahwa Bahasa adalah hasil budaya suatu masyarakat yang kompleks dan aktif. Bahasa dikatakan kompleks karena di dalamnya tersimpan pemikiran-pemikiran kolektif dan semua hal yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Bahasa dikatakan aktif karena bahasa terus berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat. Oleh karena sifatnya tersebut, bahasa adalah aspek terpenting dalam mempelajari suatu kehidupan dan kebudayaan masyarakat.

Koentjaraningrat dalam bukunya Sosiolinguistik (1985) menyebutkan bahwa bahasa merupakan bagian dari kebudayaan. Artinya, kedudukan bahasa berada pada posisi subordinat di bawah kebudayaan, tetapi sangat berkaitan. Namun, beberapa pendapat lain mengatakan bahwa hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang bersifat koordinatif, sederajat dan kedudukannya sama tinggi.

De saussure (1916) sebagaimana dikutip oleh Abdul Chair dalam bukunya Sosiolinguistik Perkenalan Awal (2010) menyebutkan bahwa bahasa adalah satu lembaga kemasyarakatan yang sama dengan kemasyarakatan lain, seperti perkawinan, pewarisan harta peninggalan, dan sebagainya. Oleh karena itu, masyarakat sendiri sebagai pelaku dalam bahasa memberikan warna tersendiri, bahkan memunculkan ragam bahasa pada bahasa itu sendiri.

Jika mengacu pada penjelasan beberap sosiolinguist diatas, bisa dikatan bahwa, keberadaan kata ‘nekarabo’ dalam komunikasi dan interaksi social masyarakat Manggarai mencerminkan pemikiran kolektif dan budaya orang Manggarai (shared cultural values) yang diteruskan dari generasi ke generasi dan dari jaman ke jaman.

Dan jika melihat penggunaan kata ‘nekarabo’ oleh orang Manggarai dalam tataran praktisnya, maka bisa ditemukan bahwa kata ‘nekarabo’ ini lebih dari sekedar diartikan sebagai ‘jangan marah’ dalam Bahasa Indonesia.

Pada kenyataannya, kata ‘nekarabo’ digunakan dalam berbagai situasi dan berbagai keperluan. Ia muncul dari mulut seorang tuan rumah yang melayani tamunya (meka), yang walaupun sang tuan rumah sudah menjamu sang tamu dengan menu terbaik (ute manuk, misalnya), tetap saja sang tua rumah akan mengucapkan, “nekarabo, itu ge si ute gami”. Ia juga muncul dari mulut seseorang yang hendak meminjam sesuatu pada seseorang yang lain sebagai pengantar penyampaian maksud dan tujuannya, ia muncul dari mulut seseorang yang tersesat dijalan dan hendak menanyakan arah pada orang yang dijumpainya, ia muncul dari mulut seseorang yang hendak menasehati seseorang yang lain, ia muncul dari mulut tukang ojek, supir oto kol , nakhoda kapal, suami pada istrinya, istri pada suaminya, hingga ia menjadi kata pemungkas dan sakti untuk berbagai keperluan dan tujuan komunikasi.

Kata ‘nekarabo’ dalam budaya Manggarai adalah bukti kesantunan dan kearifan berkomunikasi orang Manggarai yang diwariskan secara turun temurun dan dari generasi ke generasi. Ia menggambarkan kelapangan dada, kelembutan pekerti, kepekaan rasa, pemaafan yang dalam, berterimakasih yang sungguh, sumpah yang kuat, dan ketetapan dan keteguhan hati.

Sejatinya dalam sebuah kata ‘nekarabo’ yang pendek itu tercermin sebuah cara berkehidupan (a way of life) orang Manggarai yang sesungguhnya. Jika di tanah Bugis-Makassar ada ungkapan ‘Taro Ada, Taro Gau’, satunya kata dan perbuatan, di tanah Manggarai ada “nekarabo” yang menyelaraskan jaong agu pande, wetuk agu wintuk (kata dan perbuatan).

Tentu penulis berharap bahwa tulisan ini bisa dikritisi dan ditelaah lebih jauh. Utamanya oleh kraeng-kraeng tua , budayawan Manggarai, dan pihak-pihak yang memiliki concern terhadap kajian budaya Manggarai. Agar kiranya bisa memberikan gambaran bahwa kita memiliki pemahaman yang sama tentang budaya kita. Salam, tabe, nekarabo!

Memahami Alam Pikiran Tradisional Orang Manggarai

Mengapa latar belakang falsafah (alam pikiran) penting ditelaah? Karena trend umum bahwa kajian filosofis-antropologis merupakan satu studi yang aktual dan relevan saja? Jawaban yang boleh mengemuka untuk persoalan di atas adalah “barangkali”. Paling kurang ada dua pertimbangan penting mengapa dikatakan “barangkali” ketika saya berhadapan dengan persoalan seperti ini. Pertama, kenyataan plural realitas etnis di negara kita merupakan satu “kekuatan” serentak “bahaya”. Pluralitas etnis menjadi kekuatan jika dimengerti dan dipahami tidak terlepas dari konteks orisinalitas eksistensi suatu masyarakat etnis untuk selanjutnya dihargai sebagai potensi produktif bagi kese­jahteraan dan kebanggaan hidup sebagai bangsa Indonesia. Akan tetapi di sisi lain, kemajemukan dapat menjadi sumber api berba­haya bila spirit primordialisme etnis dan cara pandang antar-etnis dibiarkan berkembang stereotipe tanpa pengelolaan yang matang. Dari dalam situasi ini, hanya akan muncul rasa saling curiga, tidak saling menghargai kekhasan budaya dan adat-istia­dat, arogansi etnis-kultural, dst. yang justru merupakan pemicu bagi merusak dan merenggangnya komunikasi inter-sosio-kultural sebagai satu bangsa. Jadi, usaha mendalami alam pikiran masyarakat etnis tertentu, dalam hal ini kelompok etnis Manggarai, berguna untuk membina kedewasaan relasi antar-masyarakat etnis dalam lingkup sosial yang lebih luas.

Kedua, alam pikiran suatu kelompok masyarakat etnis terten­tu, meskipun tidak selalu berciri ilmiah-sistematis, sangat bermanfaat bagi pengembangan ilmu-ilmu sosio-antropologi. Dan, dalam konteks hidup bernegara, menyadarkan setiap warga negara untuk senantiasa menaruh hormat terhadap nilai-nilai pluralitas. Kesadaran yang sama turut memacu kematangan hidup sebagai bangsa yang demokratis. Memahami falsafah hidup, juga turut menyadarkan kita mengenai jati diri kebudayaan kita masing-masing. Itu berarti, “kesadaran” selalu merupakan sumber cahaya yang menumbuhkan kuncup-kuncup semangat untuk, meminjam kata-kata Abraham Maslow, mengaktualisasikan diri. Apa artinya bertanya: mengapa orang Manggarai memiliki kebiasaan dan sikap “begini” atau “begitu”?, jikalau hal itu tidak menghantar kita kepada kejernihan kesadar­an dan penemuan jati diri sendiri di tengah realitas sosio-kultural yang serbaneka ini?

Kebersamaan dan Orang Lain

Sejak manusia lahir dari rahim ibunya, ia tidak pernah hidup sebatang kara. Walaupun karena kerapuhan insaninya, mas­ing-msing orang cenderung untuk membebaskan diri dari ikatan sosial-kultural. Tuntutan hidup bersama ini mendorong orang tua-tua dulu harus berpikir dan mencari syarat-syarat dasarnya. Kesadaran itu terungkap misalnya dalam cara orang tua secara turun temurun menegur anaknya yang mengabaikan aturan hidup bersama. “Nana di’a-di’a bantang agu hae ata, calung-calung gauk agu hae wa’u, ai landing le mangad ase ka’e do; ai ite tara manga ranga’d one lino hoo. Toe le bengkar one mai belang. Ite hoo manga taung kuni agu kalo’d mose’d. Maik tara manga dite ai le manga dise Ende agu Ema, Ase agu Ka’e.” (Terjemahan bebasnya: Anak, bekerja samalah yang baik dengan orang lain, juga berlaku baik terhadap famili. Keberadaan kita di atas muka bumi bukan sesuatu yang terlempar begitu saja seolah-olah dari rumpun buluh atau ada karena sesuatu yang ajaib. Kita ada karena orang lain ada, karena ada Ayah dan Ibu serta Saudara dan Saudari). Kiasan yang paling ditekankan dalam rentetan kata di atas adalah frase “bengkar one mai belang”. Kata “bengkar” dalam bahasa Manggarai sinonim dengan kata “pecak”. Keduanya mempunyai arti yang kira-kira sama, yaitu “menetas”. “Belang” adalah genus bambu-bambuan, bambu yang pipih atau tipis atau lebih tepat semacam “buluh” untuk membuat seruling bambu. Jadi, seluruh frase “bengkar one belang” secara harafiah-etimologis berarti: menetas dari dalam bambu.

Dari terjemahan sederhana itu, tampak bahwa kata-kata itu tidak bermakna. Akan tetapi dalam tradisi, penggunaan kiasan itu sekurang-kurangnya menyiratkan tiga arti: pertama, mematahkan dongeng kuno (kepercayaan mitis-magis) di Manggarai yang berpan­dangan bahwa ada manusia yang pernah lahir dari rumpun bambu. Tentu saja dengan makin berkembangnya kesadaran dan pengaruh unsur-unsur kebudayaan luar (Goa dan Bima) yang masuk ke Manggarai, maka keyakinan itu sedikit demi sedikit memudar sampai disadari sebagai kepercayaan yang sia-sia (pengaruh masuknya agama-agama mondial). Kedua, kata-kata itu juga merupakan suatu petuah yang senantiasa diungkapkan oleh orang tua terhadap anak-anak mereka yang mulai beranjak dewasa dan mandiri. Mereka selalu dinasehati untuk tidak melupakan “kuni agu kalo”, kampung halaman, terutama orang tua dan sanak keluarga, kalau mereka sudah tinggal terpisah dari orang tua. Ketiga, ungkapan yang sama selalu memberi warna bagi cara menyampaikan sesuatu secara khas lewat bahasa-bahasa kiasan-alegoris.

Tradisi komunikasi adat di Manggarai merupakan semacam spiral yang berputar-putar dan berbelit-belit, tapi maksudnya yang sebenarnya hanya sedi­kit. Sekali pun secara rasional, penggunaan bahasa yang demikian sama sekali tidak efektif dalam komunikasi, tapi toh hal itu sudah dihidupi secara inheren. Tidak mengherankan jika ada kebiasaan orang-orang tua di pedesaan yang bila bertamu, pembi­caraannya akan memakan waktu berjam-jam. Tapi maksud yang sebe­narnya akan dia ungkapkan ketika si tamu hendak beranjak pulang.Misalnya ia datang untuk “meminjam barang tertentu” atau “mengajak tuan rumah untuk menghadiri suatu kegiatan tertentu”, dll. Dengan demikian, terlihat bahwa ada sekian banyak interpre­tasi yang dapat kita berikan berhadapan dengan kiasan atau “go’et” yang dibahasakan secara halus (eufemistis).

Selain itu, dalam tradisi juga sudah ada pertanyaan menge­nai makna dan tujuan hidup bersama, yakni dambaan untuk hidup tentram, damai dan selaras dengan apa yang dihidupi oleh masyar­akat. Dalam hal kerja sama sosial, terdapat ungkapan “Reje le­leng, bantang cama (berembuk secara bersama dan laksanakan pula secara bersama, atau hidup saling membantu). Kata-kata ini mengekspresikan adanya nilai-nilai “kesalingan dalam kebersa­maan” dalam hal menyelesaikan tugas bersama, memenuhi kebutuhan hidup, termasuk bagaimana orang-orang berembuk dalam rencana menyelesaikan pekerjaan berat atau urusan masalah adat yang mengharuskan keterlibatan keluarga besar. Menurut orang Manggarai, oleh cara demikian, setiap manusia dalam satu masyarakat dapat melibatkan diri secara bertanggung jawab dalam mengusaha­kan hidup bersama yang sejahtera penuh kedamaian.

Dalam kerangka hidup bersama, pelukisan di atas tidak berarti Orang Manggarai mengabaikan personalitas. Seorang priba­di, menurut cara pandang mereka, memiliki tempat tertentu di dalam lingkup sosial. Walaupun secara tradisional pandangan-pandangan patriarkis dan diskriminatif masih ada. Misalnya ada perlakuan yang berbeda-beda terhadap pribadi-pribadi bergantung pada atribut yang melekat pada mereka. Dengan demikian sepintas terlihat bahwa perlakuan terhadap pribadi-pribadi sangat bergan­tung pada atribut-atribut atau status sosial yang melekat dalam diri orang itu. Sekalipun demikian, jati diri seseorang tetap ditonjolkan dalam kebersamaan. Orang Manggarai tetap berkeyaki­nan bahwa setiap orang memiliki kekhasan-kekhasan individual. Nama, misalnya, merupakan sesuatu yang sangat pribadi. Dalam banyak hal, nama merupakan simbol tunggal, hanya mewakili priba­di yang bersangkutan. Dan karena itu, pemberian nama semata-mata ditentukan menurut “selera” pemberi nama, tanpa ikatan marga. Hal ini menjadi alasan yang mungkin mengapa orang Manggarai “seolah-olah” diberi nama sesuka hati. Masing-masing anak dari orang tua yang sama diberi nama belakang yang berbeda-beda (bdk. Frans Borgias, 1990, hlm. 180-189).

Selain itu tradisi masyarakat sudah memiliki pandangan yang positif terhadap keberadaan seseorang. Manusia adalah ciptaan yang patut disyukuri dan dihargai. Sehubungan dengan itu, para orang tua tidak begitu saja larut dalam perasaan kecewa karena melahirkan anak-anak yang tidak sesuai dengan ideal mereka, bertingkah laku dan sikap anak yang berlawanan dengan harapan orang tua. Mereka tetap menaruh kasih pada anak-anak mereka. Sebuah penggalan syair lagu Manggarai klasik “Oe Inang, Oe Amang” berbunyi demikian: Am daatn’e, tama mangan’e; Am nenin’e, tama wekin’e (biar buruk rupanya, yang penting dia ada; biar kulitnya hitam yang penting ia berbadan). Dari penggalan lagu ini terlihat bahwa hormat terhadap keberadaan manusia merupakan suatu keharusan justru karena ia ada dan hadir di tengah masyar­akat (keluarga).

“Keunggualan hidup” pribadi mendapat tempat yang positif dan senantiasa diperjuangkan sebagai satu ideal. Setiap anak oleh orang tuanya dinasehati untuk memiliki persiapan bagi masa depan yang baik. Secara parabolis dikatakan agar seseorang senantiasa hidup seperti pohon yang kokoh: “Wake caler ngger wa, saung bembang ngger eta.” (Berakar kuat ke dalam tanah, dan berdaun rimbun). Ini mengisyaratkan suatu perjuangan hidup yang sungguh-sungguh. Kesungguhan itu harus tampak dalam kematangan sikap hidup, pola pikir dan tutur kata, juga memiliki rasa tanggung jawab baik secara horisontal maupun vertikal.

Sketsa Mengenai Cara Mengenal yang Abstrak

Dari kuliah epistemologi, kita memahami abstraksi sebagai aktivitas budi manusia yang normal di mana kesadaran manusia mampu menarik citra dari suatu objek sekalipun objek itu secara real tidak hadir di hadapan si subjek. Kesanggupan itu rupanya sudah dikenal dalam tradisi hidup Orang Manggarai. Hal itu terlihat misalnya dari cara mereka membahasakan realitas semes­ta. Di sana secara sederhana sudah ada kesanggupan yang melekat dalam diri oarang tua-tua zaman lampau untuk menarik pemahaman sederhana dari benda-benda yang dilihatnya. Hal paling mencolok di sini biasanya tampak dalam gaya pengungkapan yang kaya dengan personifikasi-personifikasi, termasuk juga kiasan-kissan parabo­lis tertentu yang mencoba menarik garis penghubung yang melukis­kan kedekatan makhluk manusia dengan makhluk-makhluk dan reali­tas alam sekitarnya.

Dalam kaitannya dengan usaha menjadi manu­sia ideal, orang tua-tua menggunakan kiasan berikut: “lankas haeng ntala; agu uwa haeng wulang (agar tinggi menggapai bintang dan bertumbuh menggapai bulan). Kata-kata ini dapat ditafsirkan sebagai suatu dorongan kepada anak-anak dan generasi muda untuk memupuk diri menjadi manusia ideal. Sebab itu, meskipun seseor­ang tidak melihat suatu benda pada saat tertentu, dia bisa memiliki pengertian tentang benda itu. “Teu ca ambo neka woleng jangkong, muku ce puu neka woleng curup” (Tebu serumpun jangan beda bicara, pisang sepohon janganlah berbeda tutur kata). Ungkapan itu menyiratkan personifikasi di mana benda-benda yang disebutkan tidak hadir secara real atau dilukiskan seperti manusia. Namun demikian biasanya konteksnya bisa dipahami.

Barangkali abstraksi sederhana inilah yang melatar belakan­gi mengapa maysarakat adat di Manggarai kaya dengan pengungkapan lisan yang berasal dari rentetan bunyi kata yang homofon yang disebut “go’et”. Go’et sepintas kedengaran klise, tapi bila dipakai dalam ritus adat, maka go’et menjadi kata-kata manjur dengan pelbagai nuansa. Ia bisa menjadi sebuah lambang kesopanan serentak mengandung sindiran tidak langsung untuk lawan bicara. Tidak semua orang awam mampu menggunakan bahasa go’et secara baik. Go’et sering dipakai oleh sesepuh kampung (tu’a golo) atau oleh pembicara yang mewakili masing-masing keluarga mempelai pada upacara masuk minta (pongo wina) atau pada momen kesepakatan nikah atau tukar cincin secara adat (rekak agu tukar kila).

DAFTAR PUSTAKA
http://filsafatmanggarai.blogspot.com/2014_12_01_archive.html

Bdkn http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/25/belis-di-manggarai-flores-barat-504084.html).  JPS 27 Maret 2015.

https://www.facebook.com/groups/671486879599981/?pnref=lhc, pada 16 Mei 2015, pkl 18:50)

http://noviapiaviapiyuk.blogspot.com/2013/05/teori-kepribadian-menurut-carl-gustav.htmldan http://m-belajar.blogspot.com/2014/06/teori-teori-psikologi-kepribadian-carl.html
http://filsafatmanggarai.blogspot.com/2014/12/blog-post.html

Hidayah, Z. 1999. Ensiklopedi Suku Bangsa Indonesia. Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta. p.302.

Indonesia Heritage. 2002. Jilid 10. Bahasa dan Sastra. Jakarta: Buku Antarbangsa untuk Grolier International, Inc.

Koentjaraningrat. 1999. Pengantar Ilmu ANtropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Kridalaksana, H. 2005. “Bahasa dan Linguistik,” Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. ed. Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. Jakarta: Gramedia.

https://www.facebook.com/BerbedaBedaPendapatTapiBisaDisamakanDalamSatuNiat/posts/418216411623439

http://arsip.floresbangkit.com/2015/02/bahasa-manggarai-nekarabo-jangan-marah/

http://www.wisataflores.com/2015/03/orang-manggarai-bagian-pertama.html#sthash.fK3HsRLB.dpuf

(Geby Mahal; https://www.facebook.com/notes/agustinus-tetiro/hukum-malu-dan-sastra-esai-untuk-hut-emas-kraeng-gabriel-mahal/785211008229617?pnref=lhc, diakses, 24 April 2015, pkl 22″20).

(https://vinadigm.wordpress.com/menjajak-hari-demi-hari/menjadi-murid-lagi-bagian-25-surat-cinta-buat-nusantara/);  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s